Finalis Dimas Diajeng Bantul Ciptakan Tari Srimartani Gumregah

Perwakilan Finalis Dimas Diajeng Bantul dan Karang Taruna Desa Srimartani, Piyungan, Bantul, saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Jumat (28/6/2019). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
28 Juni 2019 20:07 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Finalis Dimas Diajeng Bantul 2019 bekerja sama dengan masyarakat Desa Srimartani, Piyungan, Bantul, akan menyelenggarakan kegiatan kreatif Gebyar Srimartani di Taman Bronjong, Minggu (30/6/2019). 

Kegiatan tersebut merupakan field program Finalis Dimas Diajeng Bantul 2019 sekaligus penilaian menuju Grand Final Dimas Diajeng Bantul 2019 pada Juli mendatang. 

Ketua Pelaksana Gebyar Srimartani Estu Kakung menyampaikan Gebyar Srimartani diselenggarakan oleh kelompok 1 yang terdiri dari lima pasang Dimas Diajeng. Jumlah finalis sendiri adalah 15 pasang yang dibagi dalam tiga kelompok. Mereka ditempatkan di Piyungan, Krebet, dan Srandakan.

Untuk kegiatan Gebyar Srimartani di Piyungan ini memiliki rangkaian acaran antara lain workshop Tari Srimartani Gumregah, soft launching Tari Srimartani Gumregah, dan Mancing Gayeng. 

"Di sini kami merintis sebuah tari untuk masyarakat di Srimartani. Tari bernama Srimartani Gumregah ini ingin dijadikan atraksi wisata dan diharapkan masyarakat punya rasa memiliki," kata Estu saat mengunjungi Kantor Harian Jogja bersama perwakilan kelompok 1 dan juga perwakilan Karang Taruna Srimartani, Jumat (28/6/2019). 

Gerakan tarian diambil dari kegiatan sehari-hari warga, mulai dari membatik, bercocok tanam, sampai membuat kerajinan. "Kebetulan Srimartani ada sanggar tari sehingga masyarakatnya sudah tidak asing lagi dengan tarian," katanya. 

Bahkan saat proses pembuatan tari kolosal Srimartani Gumregah tersebut, para Finalis Dimas Diajeng kelompok 1 ini menggali ide dan masukan dari masyarakat lokal. 

Tari ini bisa dimainkan oleh semua kalangan usia. Namun sampai saat ini masih memiliki durasi yang pendek yakni enam menit. "Ke depan kami berkeinginan untuk mematenkan. Ada usulan durasinya ditambah jadi 20 menit," katanya. 

Karya para Finalis DImas Diajeng Bantul kelompok 1 ini bisa menjadi sumbangsih menuju Srimartani Desa Wisata. "Kebetulan Srimartani akan dimajukan lomba desa wisata ke tingkat nasional tapi kan Srimartani belum jadi desa wisata maka kami ditempatkan disitu untuk mengembangkannya. Makanya dari tarian ini, kami rekam agar ditirukan dan diwariskan ke masyarakat di Srimartani," jelasnya. 

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Sri Martani Eka Hariyanta menyambut baik kehadiran para Finalis Dimas Diajeng di desanya. "Kebetulan 16 Agustus nanti akan dilaunching Srimartani sebagai Desa Rintisan Budaya. Dan buah karya dari para finalis ini akan diaplikasikan," ungkapnya. 

Menurutnya, program pengembangan wisata dan budaya yang diusung karang taruna setempat sangat cocok dengan program yang dilaksanakan para finalis di desanya. 

Eka mengatakan, lokasi wilayah Srimartani sendiri berada di ujung timur Bantul. Namun masyarakat yang herndak wisata ke Sleman atau Gunungkidul selalu melintasi wilayah Srimartani.

"Srimartani seperti enggak dapet apa-apa. Padahal di tempat kami itu banyak potensinya. Inginnya kami ingin jadi rest area," kata Eka.