Wisudawan UNY Dapat Kejutan, Rektor Tiba-Tiba Ngerap Bareng Juki 'Kill The DJ'

Rektor UNY, Prof.Sutrisna Wibawa saat sedang 'nge-rap' bersama Juki 'Kill The DJ', saat prosesi Wisuda Periode Ketiga Tahun Akademik 2018/2019, di GOR UNY, Sabtu (29/6/2019). - Ist/dok humasUNY
30 Juni 2019 11:27 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebanyak 1.574 wisudawan-wisudawati Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mendapatkan kejutan dari Rektor, lewat kehadiran Juki 'Kill The DJ' dalam acara Wisuda Periode Ketiga Tahun Akademik 2018/2019, di GOR UNY, Sabtu (29/6/2019)

Bahkan, di sela prosesi wisuda, Rektor UNY, Prof.Sutrisna Wibawa ikut unjuk kemampuan bernyanyi dengan gaya rap, bersama Juki 'Kill The DJ'. Mereka membawakan dua buah lagu, Sedulur dan Jogja Istimewa, sambil diiringi paduan suara dan permainan musik dari mahasiswa.

Sutrisna mengatakan, penampilannya dan Juki 'Kill The DJ' merupakan kejutan bagi para wisudawan. UNY menghadirkan Juki, dalam rangka menghargai seniman tersebut sebagai pemilik hak cipta lagu, sekaligus memeriahkan suasana wisuda agar tidak kaku.

Lagu berjudul Sedulur dipilih untuk dinyanyikan, sebagai bentuk ajakan bersatu paska Pemilu. Karena pada masa Pemilu, banyak orang disibukkan dengan dukungannya masing-masing, sehingga mengganggu persatuan.

"Kami gelorakan untuk bersatu tanpa membedakan dukungan politik, warna kulit, agama guyub rukun tepaslira. Crah agawe bubrah rukun agawe santosa. Sedulur pada padha akur, welas asih padha ditandur," kata dia, Sabtu.

Sementara itu, lagu Jogja Istimewa menggambarkan para wisudawan yang sudah dididik di Jogja, untuk [turut memajukan] Indonesia bahkan untuk dunia.

Juki 'Kill The DJ' mengatakan, tampil pada saat acara wisuda merupakan pengalaman pertama baginya. Menurut dia, pengalaman tersebut begitu seru dan menyenangkan.

Lulusan Harus Responsif Perubahan
Sutrisna mengatakan, wisudawan harus responsif terhadap perubahan. Salah satunya dalam menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat 5.0.

Dan untuk merespon perubahan tersebut, wisudawan harus memiliki pola pikir yang terbuka terhadap perubahan. Pola pikir yang adaptif sering disebut dengan growth mindset.

Ia meminta, wisudawan jangan berpegang pada fixed-mindset, karena akan menyebabkan mereka sulit beradaptasi terhadap perubahan. Pasalnya, fixed-midset sudah membuat batasan-batasan personal terkait dengan apa yang mereka dapat lakukan dan apa yang tidak dapat mereka lakukan.

Selain memiliki pola pikir adaptif, lulusan harus tetap memperhatikan pentingnya penguasaan teknologi, teknologi digital serta bahasa asing.

Saat ini, pendidikan bersifat ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ketiga poin itu harus dielaborasi dengan 4C atau creativity, critical thinking, communication dan collaboration.

Dari falsafah itu, pendidikan diharapkan mampu menjalankan kewajibannya, yaitu menyiapkan peserta didik agar cerdas menghadapi 'sharing economy' era di dunia global.

"Artinya, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kecerdasan sosial. Untuk melakukan terobosan dalam dunia bisnis yang tren sekarang didasarkan atas kolaborasi ekonomi," ungkapnya.

Pada Sabtu, UNY mewisuda dan meluluskan 1.574 wisudawan program Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma. Terdiri atas 20 orang program Doktor (S3), 207 orang Program Magister (S2), 1.135 orang Program Sarjana (S1) dan 212 orang Program Diploma (D3).