Berkumpulnya Ratusan Petani di Sleman Diharapkan Memotivasi Pengembangan Agribisnis

Ilustrasi sejumlah petani dan anggota TNI tengah menyemprotkan cairan pembasmi hama di lahan pertanian Dusun Blumbang, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Rabu (3/4/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
10 Juli 2019 14:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 500 petani atau nelayan dan 16 perusahaan baik BUMN maupun swasta mengikuti kegiatan Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda KTNA) DIY 2019, di Lapangan Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem Sleman, Selasa (9/7/2019). Kegiatan PEDA KTNA DIY dinilai merupakan kegiatan strategis dalam pengembangan jejaring kerja sama sekaligus membangkitkan semangat dan tanggung jawab serta kemandirian petani nelayan.

 Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X mengatakan, Peda yang dikemas dalam agribisnis tersebut jelas memiliki makna strategis ke depan, setidaknya guna untuk menghidupkan berbagai fungsi yang diharapkan bagi pengembangan agribisnis.

“Kegiatan yang juga dipadukan dengan temu para petani dan nelayan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga dan bermanfaat bagi berbagai pihak dalam rangka menyampaikan informasi kebijakan pertanian yang diperlukan oleh petani dan nelayan,” katanya.

KGPAA Paku Alam X mengatakan, forum tersebut juga diharapkan dapat digunakan sebagai wahana operasionalisasi kerja kelompok KTNA, dan difungsikan sebagai mimbar sarasehan sebagai ajang konsultasi kelompok KTNA dan petani dengan Pemerintah Daerah dan instansi terkait di semua jenjang.

Bupati Sleman, Sri Purnomo mengapresiasi Pemerintah DIY yang telah memilih dan memberi kesempatan Kabupaten Sleman untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan PEDA KTNA DIY tahun 2019.

“Kegiatan ini sangat strategis karena Peda merupakan forum pertemuan petani nelayan dalam rangka proses pembelajaran, tukar menukar informasi, pengembangan jejaring kerjasama sekaligus membangkitkan semangat dan tanggung jawab serta kemandirian  petani nelayan,” jelasnya.

Perwakilan Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP), Kusdiantoro menyebut bahwa Kabupaten Sleman menjadi salah satu wilayah yang mendapat apresiasi pihaknya beberapa tahun terakhir.

Ia mengatakan, apresiasi tersebut diberikan atas berbagai inovasi yang telah dilakukan di wilayah Kabupaten Sleman dalam sektor pertanian dan perikanan. Dirinya mencontohkan inovasi tersebut diantaranya kawasan Mina Ngremboko Sleman yang telah melegenda tingkat nasional bahkan, saat ini telah menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP).

“Jadi dari banyak wilayah saat ini sudah banyak yang berlatih kegiatan budidaya dan pengolahan di Mina Ngremboko,” jelasnya.

Inovasi lain, kata dia, yang mendapatkan perhatian pihaknya yaitu kampung nila yang telah dicanangkan salah satu Desa Inovasi dengan memperkenalkan hasil-hasil riset mengenai ikan nila kepada masyarakat, sehingga bisa diterapkan langsung oleh masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan produksi ikan nila.

Kusdiantoro menuturkan, inovasi-inovasi tersebut yang kemudian saat ini telah menjadi rujukan dan pilot project, sehingga mulai diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitasi dan produksi ikan yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kabupaten Sleman ini sudah melaksanakan visi yang sangat jelas di mana masyarakatnya diarahkan kepada pertanian dan perikanan. Kedua masyarakatnya sudah punya minat dalam kegiatan pertanian dan perikanan. Ketiga sudah action bukan lagi teoritis tapi sudah menerapkan, contohnya sudah ada. Dan terakhir sudah melakukan kolaborasi,” ujarnya.