Musim Kemarau, Petani Jagung Gunungkidul Malah Untung

Gapoktan Bondo Tani, Desa Kedungranti, Kecamatan Nglipar, bersama petugas dari Dinas Pertanian Pangan (DPP) Gunungkidul menunjukkan hasil panen jagung, Kamis (11/7/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
11 Juli 2019 21:52 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Di tengah musim kemarau yang menyebabkan ribuan hektare tanaman padi puso, petani jagung di Desa Kedungranti, Kecamatan Nglipar, justru meraup untung dengan hasil panen yang melimpah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan petani jagung mendapat untung saat panen lantaran model penanamannya tidak konvensional. Menurutnya, jagung ditanam bersama dengan tanaman kedelai dalam program tumpangsari tanaman jagung dan kedelai. "Metode penanamannya di lorong-lorong barisan," ujarnya saat ditemui Harian Jogja di lokasi panen raya jagung di Desa Kedungranti, Kamis (11/7/2019).

Bambang Wisnu menyatakan jumlah benih yang dibutuhkan untuk satu hektare lahan jagung sama dengan kebutuhan benih jagung hibrida monokultur. "Untuk satu hektare jagung hibrida monokultur perlu 15 kilogram benih dan 40 kilogram untuk kedelai benih kedelai monokultur," kata dia.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menuturkan hasil panen dengan sistem tumpangsari mencapai 0,8 ton per hektare untuk kedelai dan 7,3 ton untuk jagung. "Keseluruhan luas lahan tumpangsari mencapai 15 hektare," ujarnya.

Dia menyatakan jika dijual dengan harga yang ada saat ini, hasil panen jagung mencapai Rp545 juta serta hasil kedelai senilai Rp87,5 juta. "Sehingga keuntungan yang didapat per hektare mencapai Rp38 juta," katanya.