Tas dari Baju Bekas, Cara Earth Hour Jogja Mengurangi Ancaman Plastik

Seorang pengunjung car free day membuat tas dari baju bekas di stan Earth Hour Jogja, Minggu (21/7/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
21 Juli 2019 18:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Komunitas Earth Hour Jogja menggelar kampanye Tolak Kemasan Sekali Pakai di Car Free Day Jogja, di Jalan Jendral Sudirman, Minggu (21/7). Kampanye tersebut adalah bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional yang jatuh pada 5 Juni lalu.

Anggota Earth Hour Jogja menggalang tanda tangan dan mengajak pengunjung untuk membuat tas jinjing dari baju bekas. Ketua Eearth Hour Jogja Aditya Restu Nanda mengatakan kegiatan ini digelar serentak di 10 kota yang memiliki komunitas Earth Hour. Di Jogja, mereka mengangkat isu pengurangan penggunaan plastik kemasan atau pembungkus barang belanjaan sekali pakai.

Ia melihat saat ini penggunaan plastik di masyarakat masih sangat masif. Menurutnya, untuk pengurangan plastik ini harus dimulai dari diri sendiri. Ia mencontohkan dalam beraktivitas agar masyarakat membawa tumbler, sehingga tidak perlu membeli air minum kemasan.

Ia juga menyoroti bagaimana plastik pasti selalu digunakan di setiap tempat perbelanjaan. Satu tempat satu plastik, menurutnya, sangat berbahaya bagi lingkungan. Selain membutuhkan waktu 1.000 tahun untuk terurai, plastik yang dibakar dibakar juga berbahaya bagi pernapasan.

Dia mengajak pengunjung car free day membuat tas yang bisa dipakai berkali-kali atau reusable. Di sini, mereka menggunakan baju bekas sebagai bahan pembuat tas itu. “Baju bekas ternyata masih bisa dimanfaatkan, jadi tas reusable,” ujarnya.

Pembuatan tas dari baju bekas ini cukup sederhana, tanpa menggunakan benang atau mesing jahit. Panitia telah menyediakan sejumlah baju bekas dan peralatan sederhana seperti gunting. Setelah membuat, pengunjung bisa membawa pulang tas buatannya.

Kita cukup menggunting atau memotong bagian lengan dan leher. Lalu gunting kecil-kecil bagian bawah baju hingga membentuk garis-garis kain. Lalu ikatkan setiap garis-garis kain itu menjadi semacam anyaman. “Cukup banyak yang tertarik, hari ini kami menyediakan 25 baju dan sekarang sudah habis,” kata dia.

Salah satu pengunjung yang ikut membuat tas dari bau bekas, Listiani, seorang mahasiswi, mengatakan tertarik membuat tas ini karena unik. “Baju bekas bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang ramah lingkungan, kayak ini jadi tas misalnya,” kata dia.

Ia sendiri baru kali ini membuat tas dari baju bekas. Menurutnya, membuat tas ini juga tidak begitu sulit, karena hanya perlu dipotong dan diikat. Setelah jadi tas, ia berencana akan memakainya untuk pembungkus belanjaan di pasar.