Kunjungan Wisata Moncer, DPRD Gunungkidul Bidik PAD Rp60 Miliar
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Ilustrasi BPJS Kesehatan./Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kementerian Sosial (Kemensos) berencana menonaktifkan lima juta peserta BPJS Kesehatan yang dibiayai APBN. Terkait penerapan kebijakan di daerah, Dinas Sosial (Dinsos) Gunungkidul menunggu surat keputusan dari Pusat.
Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Dinsos Gunungkidul, Eka Sri Wardhani, mengatakan jajarannya mendapatkan informasi terkait dengan penonaktifkan peserta BPJS Kesehatan yang dibiayai APBN. Total di seluruh Indonesia ada lima juta peserta. Untuk Gunungkidul, dia belum bisa memastikan jumlahnya. “Nanti setelah SK turun baru diketahui berapa jumlah peserta di Gunungkidul yang dinonaktifkan,” kata Eka, Rabu (24/7/2019).
Menurut dia, kebijakan ini diambil karena data penerima bantuan dianggap bermasalah. Permasalahan muncul karena data penerima tidak masuk dalam Basis Data Terpadu (BDT) yang dikeluarkan Kemensos. “Mereka yang dinonaktifkan karena tidak masuk dalam BDT,” katanya.
Untuk jumlah peserta yang dinonaktifkan sebenarnya bisa dilihat dalam aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) milik Kemensos. Namun untuk kepastian masih menunggu putusan dari Kemensos.
Menurut Eka, adanya kebijakan di tingkat Pusat akan berdampak kepesertaan di daerah termasuk Gunungkidul. Namun dari sisi kuota peserta bantuan iuran dari APBN tetap karena slot yang kosong bisa diisi oleh peserta lain yang masuk dalam BDT. “Tentunya kami juga menyiapkan antisipasi. Misalnya dengan pengganti kepesertaan yang didanai melalui APBD kabupaten,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Sumaryanto, mengatakan wacana penghapusan peserta bantuan iuran dari Pemerintah Pusat harus disikapi dengan bijak. Pasalnya, dengan menghapus lima juta peserta akan berdampak ke daerah, tak terkecuali Gunungkidul.
Menurut dia, upaya antisipasi dapat dilakukan dengan menanyakan kepastian jumlah penghapusan di Gunungkidul. Kepastian ini sangat penting karena menyangkut kepesertaan di Gunungkidul yang sampai saat ini sudah mencapai di atas 95%. Sumaryanto berharap jangan sampai ada salah dalam penonaktifan karena hal ini akan berdampak terhadap fasilitas layanan kesehatan bagi keluarga kurang mampu. “Kenapa kepastian ini diperlukan karena sebagai tindak lanjut atas keputusan dari Pemerintah Pusat,” katanya.
Komisi D mendukung sepenuhnya upaya Pemkab dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat melalui BPJS. Pasalnya, kesehatan merupakan salah satu layanan dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah. “Di dalam setiap pembahasan APBD pasti, layanan kesehatan ke masyarakat menjadi pokok bahasa yang bisa ditinggalkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Arya Saloka mengungkap pengalaman menjadi cowboy dan belajar berkuda di film Empat Musim Pertiwi yang tayang 8 Oktober 2026.
Kisah mendalam 2.000 pekerja PT Woneel Midas Leathers di Gunungkidul yang memproduksi sarung tangan olahraga kelas dunia hingga rencana ekspansi.
Dosen UGM Cahyaningrum Dewojati mengaku KTP-nya dipinjam untuk formalitas yayasan Little Aresha, tetapi namanya masuk struktur kepengurusan.
15 universitas terbaik di Jawa Tengah versi Webometrics September 2026. Undip menjadi kampus dengan peringkat tertinggi di Jawa Tengah.
Basarnas belum menemukan tanda lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Pencarian terkendala area rawan dan asap tebal.