Bupati Bantul Terkesan dengan Penyelenggaraan Festival Paseban 2019, Ini Dia Alasannya

Jatilan Diponegaran saat ditampilkan dalam pembukaan Festival Paseban 2019 di Lapangan Paseban, Bantul, Jumat (26/7/2019) malam lalu. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
28 Juli 2019 18:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Gelaran yang dulunya bernama Bantul Art Festival dan kini berganti nama Festival Paseban yang digelar di Lapangan Paseban, Desa Bantul, Kecamatan Bantul resmi berakhir, Sabtu (27/7/2019) lalu. Event yang digelar sejak Jumat (26/7/2019) tersebut dinilai positif lantaran juga memberikan ruang pada pedagang kaki lima (PKL) untuk turut meraup untung dalam acara tersebut.

Bupati Bantul Suharsono mengaku terkesan dengan penyelenggaraan Festival Paseban 2019 yang memberikan ruang bagi PKL yang biasa menjajakan dagangannya di Lapangan Paseban. Alih-alih digeser lantaran adanya event tersebut, para PKL justru diposisikan sebagai bagian penting. “Ini jelas saya apresiasi. Pemkab ingin Festival Paseban bisa turut memberikan untung bagi para PKL yang selama ini sudah membuat suasana Lapangan Paseban menjadi banyak dikunjungi masyarakat,” ucap Bupati, akhir pekan lalu.

Ke depan Pemkab Bantul diakui dia bakal terus mengembangkan kawasan Paseban. Setelah membongkar bagian sisi barat dan timur lapangan, selanjutnya akan membongkar bangunan bekas Kodim di sisi selatan lapangan. Lokasi tersebut nantinya akan dijadikan sebagai lahan parkir pengunjung Paseban.

Tak hanya itu, Bupati juga meminta Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul dan masyarakat pada umumnya untuk tetap merawat keberlanjutan agenda tahunan tersebut serta meningkatkan kualitas acaranya. “Terutama bagi kader-kader seniman dan budayawan sebagai penggerak utama kegiatan. Menurut saya, pengembangan seni tergantung bagaimana mampu membangkitan inovasi dan kreativitas,” kata Suharsono.

Kepala Disbud Bantul, Nugroho Eko Setyanto mengatakan selain menampilkan hiburan dan kesenian juga permainan anak, kuliner, dan fashion, Festival Paseban juga mengolaborasikan seni tradisional dan modern. “Ini bagian dari tugas kami untuk menguatkan nilai-nilai lokal,” kata dia.

Nugroho mengatakan hampir sebagian besar hiburan yang ditampilkan untuk anak-anak karena memang mulanya terinspirasi oleh aktivitas masyarakat di Lapangan Paseban setelah jam kerja, yaitu mainan anak dan kuliner yang beroperasi pada sore hingga malam hari menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat.

Terkait dengan jumlah PKL yang dilibatkan, dari catatan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) ada 180 pedagang yang beroperasi di Lapangan Paseban setiap harinya. “Kami berharap festival tersebut dapat menggerakan perekonomian di kawasan Lapangan Paseban. Selain itu juga merupakan ruang apresiasi bagi para seniman Bantul, memberi edukasi seni budaya termasuk sebagai hiburan alternatif serta mendukung pariwisata di Kabupaten Bantul,” kata Nugroho.

Sekadar diketahui, Festival Paseban diselenggarakan selama dua hari. Di hari pertama, tarian Jatilan Diponegaran yang diklaim sebagai simbol kesenian tradisional Bantul, ditampilkan sebagai pentas pembuka.

Sedangkan di hari kedua, beberapa kesenian ditampilkan, di antaranya karawitan anak, reog dan jatilan yang banyak mengukir prestasi, baik di tingkat DIY maupun nasional. Tak hanya itu, pegiat permainan tradisional juga berpartisipasi dalam mini lokakarya dan lomba untuk anak-anak dan remaja. “Malam harinya, diawali dengan video mapping dan dilanjutkan dengan hiburan Dagelan Mataram Teater Banyu, Om Wawes, ditutup dengan musik rap Jawa dan penampilan Jogja Hip Hop Foundation,” ucap Nugroho.