Bukan Belalang, Tawon Jadi Ikon Gunungkidul dan Inspirasi Batik Baru
Bupati Gunungkidul dorong batik motif tawon sebagai ikon daerah. Sarat filosofi dan berpotensi tingkatkan ekonomi masyarakat.
Petani menyirami tanaman cabai yang ditanam berdampingan dengan bawang merah di Dusun Karangduwet II, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Sabtu (27/7/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Dusun Karangduwet II, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, tetap mempertahakan sistem pertanian dengan model tumpangsari. Selain pemanfaatan lahan lebih efektif, upaya pemeliharaan dinilai lebih hemat.
Kombinasi dalam penanaman ini terlihat dari upaya pengembangan budi daya bawang merah. Di lahan itu petani tidak hanya menanam satu jenis tanaman karena tanaman lain juga ikut dipelihara. “Model tumpangsari sudah ada sejak lama dan tetap dipertahankan hingga sekarang,” kata salah seorang petani Dusun Karangduwet, Suroto, kepada wartawan, Sabtu (27/7/2019).
Menurut dia, selain bawang merah di lahan yang sama juga ditanami dengan cabai. Meski demikian penanaman tidak dilakukan secara bersamaan. Suroto mencontohkan di lahannya terlebih dahulu ditanami bawang merah. Setelah tanaman ini tumbuh dengan subur akan ada sekat lahan yang kosong sehingga bisa ditanami cabai. “Jadi nanti setelah bawang merah panen, cabai yang ditanam petani sudah besar-besar,” katanya.
Menurut Suroto, dengan model penanam tumpangsari, petani mendapatkan banyak manfaat. Di satu sisi lahan yang digunakan tidak banyak karena di satu tempat bisa menanam dua jenis yang berbeda. Sedang di sisi lain, upaya pemeliharaan lebih hemat karena pemupukan tidak dilakukan berulang. “Jadi bisa lebih efektif,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan oleh Wasilah, petani lain di Dusun Karangduwet II. Menurut dia, dengan model tumpang sari pemanfaatan lahan bisa lebih maksimal. “Yang jelas banyak manfaatnya,” katanya.
Wasilah menuturkan, meski telah memasuki musim kemarau petani di Desa Karangrejek tidak khwatir karena lahan tetap bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Hal ini tidak lepas dengan adanya sumur bor yang dimanfaatkan untuk pengembangan di sektor pertanian. “Air masih bisa didapatkan meski sudah masuk musim kemarau sehingga petani masih bisa beraktivitas,” katanya.
Meski demikian, kata Wasilah, saat kemarau petani tidak lagi menanam padi. Sebagai gantinya lahan dimanfaatkan untuk menanam tanaman lain seperti jagung, sayur-sayuran, bawang merah hingga tembakau. “Untuk sayuran banyak jenisnya ada yang menanam terong, kangkung dan jenis sayur lainnya. Namun untuk mayoritas banyak yang dimanfaatan untuk bawang merah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bupati Gunungkidul dorong batik motif tawon sebagai ikon daerah. Sarat filosofi dan berpotensi tingkatkan ekonomi masyarakat.
Rencana BI menaikkan remunerasi kas pemerintah dinilai dapat membantu menekan biaya utang negara dan menjaga stabilitas rupiah.
Marc Marquez menjuarai MotoGP Hungaria 2026 setelah mengalahkan Pedro Acosta. Kemenangan ini membuat peluangnya di klasemen semakin terbuka.
Jepang menyiapkan pengerahan SDF ke Selat Hormuz dengan tiga syarat utama, termasuk gencatan senjata AS-Iran dan penurunan ancaman keamanan.
Wamenaker Afriansyah Noor mendorong revisi UU UAP 1930 dan aturan K3 karena dinilai tidak lagi sesuai dengan perkembangan industri modern.
Kekurangan 33 Guru Pendamping Khusus di DIY masih terjadi. Sebanyak 51 SMA/SMK mengajukan kebutuhan GPK untuk mendukung sekolah inklusi.