BKSDA Selidiki Penyebab Penyu Mati di Pantai Congot

Kondisi bangkai penyu saat pertama kali ditemukan di Muara Pantai Congot, Dusun Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Selasa (6/8/2019). - Ist - dok
12 Agustus 2019 17:47 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA DIY, Untung Suripto mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Fakultas Biologi UGM untuk mengetahui penyebab pasti kematian seekor penyu yang bangkainya ditemukan di Muara Sungai Bogowonto, Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (12/8/2019).

Ada sejumlah kemungkinan yang membuat penyu tersebut mati, yaitu karena siklus alam, atau akibat ulah manusia.

"Jika hasil nekropsi tidak ditemukan hal aneh maka besar kemungkinan penyu ini mati karena siklus alam, bisa karena memang usianya sudah tua sehingga sakit. Biasanya kalau sudah begini secara alami penyu akan menuju ke pantai dan akhirnya mati atau terdampar di situ," ujar Untung, Senin (12/8/2019).

Namun, jika penyebab kematian karena ulah manusia, Untung mengharapkan adanya kerjasama dengan masyarakat dalam rangka pelestarian penyu. Mereka bisa berpartisipasi dengan berbagai cara, mulai dari tidak membuang sampah di laut, tidak mengambil telur penyu, dan mengkampanyekan pelestarian penyu kepada pengunjung pantai.

Sementara itu, Pegiat lingkungan hidup Kulonprogo Saptono Tanjung mengatakan perlu ada peneliti lebih lanjut terkait maraknya kematian penyu dan tren sekarang banyak penyu enggan naik ke pantai untuk bertelur.

Selain itu, penguatan kapasitas masyarakatnya baik kelembagaan dan teknis, agar penyu bisa semakin terlindungi juga perlu ditingkatkan. Dia mengharapkan, habitat penyu di Kulonprogo bisa dijaga oleh semua pihak, utamanya, masyarakat yang tinggal di sekitar habitat tersebut.

Diberitakan sebelumnya, warga Dusun Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, digegerkan dengan penemuan seekor penyu yang sudah dalam kondisi membusuk di Muara Pantai Congot, desa setempat, Minggu (4/8). Bangkai penyu itu pertama kali ditemukan oleh warga sekitar, Triyono saat sedang menjaring ikan.

"Saya lihatnya pas lagi njaring ikan, ada kaya penyu gitu sekitar 25 meter dari pantai, tapi kok gak bergerak, pas saya datangi, bener ternyata memang penyu, tapi sudah mati dan kondisinya menggemaskan, kaya masih ada darahny gitu di kulitnya," kata Triyono, Selasa (6/8/2019). Penemuan ini kemudian dilaporkan kepada tokoh masyarakat dusun setempat.

Tokoh Masyarakat Dusun Pasir Kadilangu Suparyono saat dikonfirmasi membenarkan penemuan tersebut. Namun saat ini bangkai itu sudah lenyap. Pihaknya tidak mengetahui pasti hilangnya bangkai itu. Sejumlah dugaan muncul, mulai dari diambil orang tak bertanggung jawab untuk dimanfaatkan tempurungnya hingga kemungkinan terbawa ombak pantai.