Gelar Jogja Menyapa Hari Ini, Mahasiswa Baru Diajak Srawung

Paniradyapati Pemda DIY, Benny Suharsono (tengah) dan Anang Batas (kanan) saat jumpa pers terkait kegiatan Jogja Menyapa di kompleks Kepatihan, Senin (19/8/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
20 Agustus 2019 06:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY terus berupaya mengedukasi mahasiswa soal Keistimewaan DIY. Melalui kegiatan bertajuk Jogja Menyapa: Ngaruhke, Ngarahke, Tepung, Dunung, Srawung yang digelar di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (20/8/2019), Pemda DIY bermaksud mengenalkan aspek-aspek sosial kemasyarakatan, pola perilaku kesantunan, keramahtamahan, seni, budaya, dan kuliner yang menjadi karakter Keistimewaan DIY.

Paniradya Pati Pemda DIY, Benny Suharsono momentum datangnya para mahasiswa baru di DIY ini merupakan waktu yang tepat untuk lebih mengenalkan Keistimewaan DIY. Ngaruhke, Ngarahke yang menjadi tagline acara tersebut, kata dia, adalah tindakan-tindakan awal yang umum dilakukan masyarakat DIY ketika menyambut tamu atau warga baru.

Ngaruhke maksudnya menerima, menyambut, atau sapaan sugeng rawuh. Ngarahke maksudnya mengarahkan atau menunjukkan berbagai hal tentang DIY, sehingga antara warga baru dan tuan rumah dapat saling mengenal dan memahami,” kata dia saat jumpa pers di kompleks Kepatihan, Senin (19/8/2019).

Dengan saling mengenal dan memahami, diharapkan para mahasiswa baru bisa saling tepung (paham dan mengerti), dunung (mengenal lebih dekat), dan srawung (menjalin hubungan lebih dekat dan akrab).

Jika aspek-aspek itu terpenuhi, menurut dia proses akulturasi dan inkulturasi budaya antara para mahasiswa baru dan masyarakat DIY berlangsung dengan tetap mengedepankan semangat Bhinneka Tunggal Ika. “Warga baru DIY [mahasiswa baru] yang berasal dari beragam latar belakang budaya, tidak harus serta merta menjadi orang DIY [Jawa]. Mereka tetap membawa unsur dan identitas budayanya sendiri untuk saling melengkapi dan membaur di dalam kerangka kehidupan bermasyarakat. Karena hal tersebut merupakan salah satu dari Keistimewaan DIY,” ucap Benny.

Sebagai tahap awal, Jogja Menyapa: Ngaruhke, Ngarahke, Tepung, Dunung, Srawung akan menyasar mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kedekatan historis, baik dengan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, maupun dengan masyarakat Indonesia dari berbagai belahan bumi Indonesia, menjadi dasar dipilihnya UGM sebagai lokasi awal pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Rencananya ada sekitar 1.000-1.500 mahasiswa hadir. Setelah itu, kami akan melakukannya di beberapa kampus lainnya di DIY. Yang menjelaskan nanti para akademisi. Yang hadir di sana bisa kemungkinan dari kampus lainnya," katanya.

Komedian Anang Dwi Yatmoko atau yang akrab disapa Anang Batas, yang akan memandu kegiatan tersebut mengatakan beberapa rangkaian kegiatan antara lain, guyonan, gojekan, plesetan, dialog budaya, tarian tradisional dari beberapa daerah Indonesia, penampilan Beksan Wanara dari Kraton Jogja, serta penyanyi yang baru-baru ini dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot.

"Mahasiswa baru yang datang ke Jogja butuh memahami apa itu Jogja. Makanya yang dikenalkan juga keberagaman yang ada di Jogja. Nanti ada dialog yang dikemas secara santai," katanya.