Kampus Negeri di Jogja Bongkar Pasang Prodi

Ilustrasi wisuda perguruan tinggi - Antara
21 Agustus 2019 19:17 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mulai bongkar pasang prodi, agar memiliki kapasitas mendidik yang relevan dengan tuntutan zaman.

Misalnya seperti dikemukakan Rektor Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Jogja, Irchas Effendi mengungkapkan, mulai 2015 kampus Bela Negara tersebut berencana membuka sekitar 12 prodi baru, untuk mendukung generasi muda khususnya mahasiswa dalam menghadapi tantangan ke depan dan revolusi industri. Sembilan prodi di antaranya sudah keluar izin operasional.

Antara lain Sistem Informasi, prodi Hubungan Masyarakat, Metalurgi, Magister Manajemen Bencana, Geomatika, Magister Teknik Perminyakan, Doktoral Geologi, Magister Ilmu Komunikasi, mengaktifkan kembali prodi Ilmu Tanah.

"Sementara tidak ada rencana penutupan prodi, dulu kami sudah menutup prodi Ilmu Tanah dan digabung dengan Agroteknologi. Tapi karena animo tinggi dari masyarakat, maka kami buka lagi," ujarnya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof.Sutrisna Wibawa mengungkapkan, di UNY belum ada penghapusan prodi. UNY masih melihat apakah prodi-prodi yang ada masih relevan di dunia kerja dan pengembangan masa kini atau tidak.

"Memang ada prodi yang sifatnya harus dibina karena terkait karakter bangsa, ada sifatnya kontemporer, ada juga prodi yang ilmu murni. Ilmu murni itu sebagai dasar, harus selalu menjadi dasar pengembangan ke depan. Tapi ada prodi teknologi, yang dikembangkan agar sesuai dengan masa kini," ungkapnya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Universitas Gadjah Mada (UGM), Iva Ariani menyebutkan, UGM saat ini menunjukkan upaya menyesuaikan keluaran lulusan dengan kebutuhan dunia global, melalui penambahan prodi yaitu Aktuaria dan mengubah prodi D3 (Diploma) menjadi Sarjana Terapan.

UGM selalu berpikir relevansi dengan perkembangan zaman, baik mulai dari kegiatan hingga kurikulum. Bagaimana skill terbentuk setelah lulus dan menghadapi dunia kerja.

"Kalau penutupan prodi [dalam beberapa waktu ke depan], saya belum yakin pasti. Tapi menutup Diploma dan menjadikannya Sarjana Terapan, itu menjadi salah satu cara bagi kami menyesuaikan keluaran perguruan tinggi dengan kebutuhan industri," ujarnya.