Ulang Tahun Ke-43 Ramayana Ballet: Tak Ada Dialog Selama Pentas

Pementasan Ramayana Ballet Purawisata pada ulang tahunnya yang ke 43, di Amphiteater Purawisata, Rabu (22 - 8).
22 Agustus 2019 23:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Ramayana Ballet Purawisata merayakan ulang tahunnya yang ke-43. Di usia yang semakin dewasa, mereka masih memegang komitmennya untuk terus tampil setiap malam, menyajikan hiburan berkualitas bagi wisatawan. Berikut laporan wartawan Harian jogja, Lugas Subarkah

Dengan bantuan Kolo Marico yang dapat berubah menjadi Kijang Kencana untuk menggoda Rama, Sinta dan Laksmana, Rahwana berhasil menculik Dewi Sinta. Burung Jatayu berusaha menyelamatkan, tapi gagal dan jatuh ke Bumi. Sebelum tewas, Jatayu sempat melaporkan jika Dewi Sinta telah diculik.”

Demikian penggalan pembuka skrip Ramayana Ballet Purawisata. Dengan diiringi tabuhan gamelan dan pencahayaan yang sederhana, para pemain lincah menari-nari di atas panggung tanpa dialog sedikit pun. Tradisionalitas dan universalitas menjadi nilai yang terus dipegang kelompok ini selama 43 tahun.

Selama sekitar satu setengah jam pertunjukan, sama sekali tidak ada dialog. Para pemain menari dan membuat gerakan-gerakan isyarat sederhana yang mudah dipahami sebagai pengganti bahasa lisan. Sesekali mereka juga berinteraksi dengan audiens dan membuat para penonton berkelakar, meski tanpa kata.

Pimpinan Ramayana Ballet Purawisata, Dahanan, mengatakan konsep ini dilatarbelakangi oleh segmentasi audiens, yang hingga saat ini didominasi oleh turis mancanegara. Untuk dapat menjangkau pemahaman mereka atas cerita yang disajikan, bukan bahasa lisan yang dibutuhkan, melainkan bahasa gerak tubuh yang mampu menembus batas-batas kebudayaan.

Ia berkisah awal mula terbentuknya Ramayana Ballet Purawisata ini memang ditujukan menghibur turis mancanegara. “Pascakemerdekaan, banyak wisatawan yang berkunjung ke Jogja, tapi di sini waktu itu belum ada apa-apa, masih sepi sekali,” kata dia mengenang.

Pada masa itu, di Jogja hanya ada sedikit hiburan, yakni pertunjukan wayang kulit Ratna Kriyasna di depan Hotel Ambarrukmo, Cokekan di depan Toko Ramai, wayang kulit di Sasana Hinggil dan Sendratari Ramayana di Prambanan yang didirikan pada 1961.

Pertunjukan-pertunjukan ini tidak setiap hari dipentaskan. Hanya hari-hari tertentu, seperti wayang kulit di Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Selatan, hanya sebulan sekali. “Ramayana di Prambanan mainnya hanya empat kali di musim kemarau. Jadi satu tahun hanya 24 kali. Mereka mengandalkan Bulan Purnama. Listriknya belum ada. Jadi di sela-sela itu sangat sepi tidak ada pertunjukan,” ungkapnya.

Atas inisiatif Garwo Dalem (istri) Sri Sultan HB IX, terkumpul sekelompok seniman yang diambil dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) di Karangmalang, Sleman, yang sekarang menjadi ISI di Jalan Parangtritis, Bantul. Mereka melihat pentas wayang orang di kompleks Purawisata atau dulu yang disebut Taman Hiburan Rakyat (THR) sepi peminat. Para pemain menggunakan bahasa Jawa sementara penonton kebanyakan dari mancanegara.

Mereka pun bereksperimen dengan pementasan wayang bisu selama 15 menit sebelum ketoprak sepanjang dua jam. Hasilnya para turis asing antusias dengan pertunjukan selama 15 menit itu dan dari situ mampu menghidupi ketoprak di belakangnya. Akhirnya mereka pun memilih konsep wayang bisu yang dipakai hingga sekarang.

Pada 1984, berkat salah satu wisatawan yang memfilmkan pertunjukan itu, Ramayana Ballat Purawisata dikenal di Eropa. Ceritanya, pada tahun itu, Jerman masih terbelah Tembok Berlin. Pada suatu malam salah seorang wisatawan asal Jerman Barat mendatangi Dahanan. Ia meminta izin untuk memfilmkan pentas Ramayana Ballet Purawisata.

Dahanan pun menyetujuinya. Hasilnya, pementasan kelompok Dahanan CS ditayangkan di stasiun TV Jerman Barat Jet D.F. Warga Eropa pun mulai mengenal Ramayana Ballet Purawisata.

Bahkan setahun kemudian, kelompok Dahanan CS diundang untuk pentas di Eropa. Selama tiga bulan, setiap hari, mereka mementaskan Ramayana di Prancis, Swiss, Belanda dan Spanyol. “Seluruh kota di Prancis kami pentas. Kerjaannya tidur, makan, piknik dan pentas,” ujarnya.

Ada kisah unik saat kelompok ini “tur” di Eropa. Ia menceritakan karena hanya mampu bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris, kelompok ini harus selalu bersama, ke mana pun pergi, minimal dua orang. “Saya saja sempat keblasuk, pas mau naik pesawat, setelah masuk pesawat saya baru sadar itu pesawat Israel, lihat lambang Bintang David. Saya langsung keluar. Untung belum terlambat,” katanya.

Di Eropa, mereka hanya membawa paspor Indonesia ke Prancis, dengan visa Prancis. Sehingga jika pindah negara, harus cari visa lagi. Uniknya, di Eropa mencari visa bisa diurus cukup di stasiun kereta api.  “Waktu keluar dari kereta api di Swiss, kami dicegat tentara Jerman. Sempat takut, tapi ternyata mereka hanya perlu disapa selamat siang dalam bahasa Jerman. Akhirnya saya cuma bilang guten cher ag, dan teman-teman saya suruh bilang kata-kata yang sama,” kata dia.

Meski keliling Eropa, bukan berarti mereka meninggalkan pentas di Jogja. Dahanan membagi kelompoknya menjadi dua, 16 orang berangkat ke Eropa dan sisanya sekitar 20 orang tetap pentas di THR. Sejak awal mereka telah berkomitmen untuk tetap pentas di THR, apapun yang terjadi. Sehingga jika diundang pentas di luar, mereka akan membagi dua kelompoknya.

Saat ini anggota aktif Ramayana Ballet Purawisata berjumlah 67 orang. Anggota termuda berusia tiga tahun. Ia berperan menjadi kethek sehingga tidak perlu acting.

Sistem regenerasi berjalan sangat terbuka. Ada yang menurunkan ke anak cucunya, ada pula seniman baru yang mencoba ikut bergabung. Begitu pula mereka yang hendak meninggalkan grup, kata Dahanan, itu hal yang biasa. “Kalau dapat pekerjaan di luar, mereka biasanya mengundurkan diri. Tapi kalau nanti ke Jogja ya pasti tetap ke sini,” kata dia.

Meski setiap malam para pemain pentas, mereka tetap memiliki keehidupan normal layaknya masyarakat pada umumnya. Orang dewasa bekerja, sementara yang anak-anak tetap sekolah. Sebisa mungkin pentas tidak mengganggu rutinitas ini, sehingga terjadi penyesuaian-penyesuaian yang unik.

Di belakang panggung, bisa kita dapati pemain anak-anak membawa buku pelajaran sekolah dan belajar di situ. Saat waktunya tampil, mereka harus bergegas naik panggung, dan saat istirahat, ia akan kembali ke buku pelajarannya. Saat musim ujian, anak-anak sama sekali tidak pentas. Mereka fokus belajar dan mempersiapkan ujian esoknya.

Meski terlihat repot dan akan bosan jika pentas menjadi pengulangan setiap malam, dalam diri para pemain pentas sudah menjadi bagian dari hidupnya, sehingga malah akan terasa janggal jika tidak pentas. “Pernah mereka saya kasih libur, awalnya senang, tapi akhirnya mereka tidak betah, kembali ke sini bergabung dengan teman-temannya,” katanya.