Kuda Penarik Andong Juga Butuh Perhatian

Dokter memeriksa kuda pekerja dalam kegiatan klinik gratis dan workshop menapel (pemasangan sepatu kuda) untuk kuda pekerja, di Lapangan Sidoarum, Godean, sejak Sabtu (31/8) hingga Minggu (1/9/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
01 September 2019 20:22 WIB Yogi Anugrah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Animal Friends Jogja (AFJ) bekerja sama dengan Jakarta Animal Aid Networks (JAAN), The Society for the Protection of Animals Abroad (SPANA), dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM memberikan pemahaman merawat kuda pekerja kepada beberapa paguyuban kusir andong di DIY.

Pemahaman tersebut diberikan dengan mengadakan klinik gratis dan workshop menapel (pemasangan sepatu kuda) untuk kuda pekerja, di Lapangan Sidoarum, Godean, sejak Sabtu (31/8/2019) hingga Minggu (1/9/2019).

Among Prakoso, Asisten Manager Program AFJ mengatakan masih rendahnya tingkat kesejahteraan kuda pekerja di wilayah Jogja menjadi alasan utama pihaknya mengadakan kegiatan tersebut.

“Ini memang kegiatan yang rutin kami lakukan sejak 2017, sebagai bentuk kepedulian pada kuda pekerja,” kata dia saat ditemui, Minggu (1/9/2019).

Dalam kegiatan tersebut, AFJ mengundang para kusir andong dari beberapa paguyuban. Setiap kuda yang datang diperiksa kesehatan dan diberi vaksin serta vitamin ataupun obat-obatan yang diperlukan.

Kuda yang kondisi sepatu sudah perlu diganti akan ditangani oleh Nanang, penapel dari JAAN yang sekaligus memberikan contoh serta mengawasi praktik.

“Selama dua hari, sudah belasan kusir andong yang mengikuti kegiatan ini. Kegiatan berikutnya akan dilaksanakan di wilayah yang berbeda pada November mendatang,” ujar dia.

Salah seorang kusir andong dari paguyuban wilayah Gamping, Parman mengaku terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Selama ini, ia mengaku belajar merawat kudanya secara otodidak dan berdasar pengalaman.

“Merawat tidak terlalu susah, biasanya kuda hanya masuk angin atau tidak nafsu makan, lalu saya beri jamu,” kata pria yang telah menjadi kusir selama 29 tahun ini.

 

Perlu Regulasi

Andong adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan sebagai identitas budaya Jogja, hal tersebut tertuang dalam Perda DIY No.5/2016 yang mengatur tentang moda

transportasi tradisional yang meliputi becak dan andong.

Perda tersebut memberikan aturan yang lengkap mengenai kelengkapan, tata tertib dan konstruksi dari kendaraan tradisional tersebut.

Namun menurut Among, kuda, sebagai salah satu elemen utama dari andong hanya mendapatkan sedikit perhatian. Aturan mengenai kesehatan yang layak dan kekuatan fisik dari kuda-kuda tidak diatur secara detail dalam perda tersebut.

“Kalau dibanding wilayah lain, Jogja ini sudah bagus, banyak standar yang sudah diterapkan. Namun kami dorong untuk lebih bagus lagi,” jelas dia.

Dengan banyaknya kasus kuda terjatuh, terpeleset, pingsan yang terjadi di Jogja, ia berharap bisa menjadi pertimbangan para perumus peraturan untuk memasukkan aspek standar operasional yang terkait dengan kuda.

“Misal ada akses tempat minum, tempat berteduh untuk kuda saat siang hari,  kesejahteraan hewan itu penting, apalagi hewan pekerja.  Kalau dehidrasi, lesu, bisa memicu kecelakaan,” kata dia.

Karena itu, agenda ke depan akan mendata apa yang dibutuhkan untuk peningkatan kesejahteraan kuda pekerja dan membawanya ke instansi terkait.

“Januari atau Februari nanti akan kami bawa ke Dinas Perhubungan, Dinas Pertanian untuk membicarakan situasi ini. Harapannya bisa diakomodasi dalam perbaikan perda transportasi tradisional,” kata dia.