PKM UAD: Penghasil Salak di Wonokerto Dilatih Gunakan Vacuum Frying

Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat pelatihan penggunaan vacuum frying untuk mengolah buah salak segar menjadi keripik salak. - Ist
08 September 2019 03:37 WIB Anton Wahyu Prihartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan pengabdian masyarakat ke penghasil salak di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) UAD memberikan diseminasi teknologi berupa pelatihan penggunaan vacuum frying untuk mengolah buah salak segar menjadi keripik salak.

Kegiatan tersebut berupa pelatihan kepada kelompok masyarakat purna TKI yang bernaung di bawah lembaga Manunggal Agawe Santosa (MAS). Salah satu tim, Erna Astuti mengatakan kegiatan yang dilaksanakan merupakan implementasi kerja sama tim pengabdian masyarakat yang memperoleh hibah dari Kemenristekdikti untuk Program Kemitraan Masyarakat tahun 2019. Tim terdiri dari Erna Astuti, Titisari Juwitaningtyas, dan Ali Tarmuji.

“Kecamatan Turi khususnya Desa Wonokerto merupakan wilayah penghasil salak. Vegetasi alam di wilayah ini dipenuhi oleh pohon-pohon salak antara lain varietas salak pondoh, salak madu, salak manggala, dan salak gading. Maka dari itu kami tertarik untuk melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Wonokerto dengan melibatkan warga penghasil salak,” ujar Erna dalam rilisnya kepada Harianjogja.com, Sabtu (7/9/2019).

Menurut Erna, produksi salah di Wonokerto terbilang cukup banyak. Selain dijual sebagai buah segar, masyarakat juga mengolah salak menjadi berbagai produk olahan seperti dodol salak dan manisan salak.

“Pada kesempatan tersebut PKM UAD memberikan diseminasi teknologi berupa pelatihan penggunaan vacuum frying untuk mengolah buah salak segar menjadi keripik salak,” jelas Erna.

Dia mengatakan, vacuum frying adalah alat atau mesin yang bekerja dengan prinsip penggorengan dengan suhu rendah dan tekanan tinggi. Dengan prinsip kerja tersebut, kata dia, diharapkan produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik tanpa merusak bentuk dan kandungan gizi pada bahan pangan.

Pengolahan salak menjadi keripik salak dapat memperpanjang umur simpan produk sehingga produk tidak mudah busuk serta mempunyai kesempatan waktu yang lebih panjang untuk dijual. Erna menyebut teknologi yang diterapkan di Wonokerto merupakan hal yang baru.

“Teknologi pengolahan ini merupakan hal yang baru bagi masyarakat di daerah ini. Diharapkan adanya program ini, mampu memberikan peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat sekitar,” tegas Erna.

Erna menambahkan warga Wonokerto yang mendapat pelatihan menyambut positif apa yang dilakukan tim PKM UAD tersebut. “Warga sangat antusias dalam mengikuti pelatihan karena teknologi tersebut sangat membantu mereka dalam meningkatkan ekonomi,” tambah Erna.