Ini Keunggulan Kampung Iklim Rejowinangun Kota Jogja

Ilustrasi perubahan iklim. - JIBI
12 September 2019 09:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penilaian lomba Program Kampung Iklim (Proklim) 2019 sudah dimulai. RW 8 Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kotagede siap mewakili Kota Jogja untuk lomba tingkat selanjutnya.

Lurah Rejowinangun Kota Jogja Wulan Purwandari mengatakan, ada banyak keunggulan yang dimiliki RW 8 Rejowinangun untuk layak mewakili Kecamatan dalam lomba Proklim 2019. Selain dinilai siap, RW 8 memiliki sejumlah keunggulan di mana wilayah ini memiliki mampu mengembangkan tanaman obat keluarga (toga) sejak lima tahun terakhir.

"Di RW ini juga kelompok tani jamu herbal. Warga juga mampu mengembangkan kampung sayur sendiri pada tahun ini. Mereka memanfaatkan dana swadaya bahkan ada di RT yang baru memiliki 300 meter lorong sayur," kata Wulan kepada Harian Jogja, Rabu (11/9/2019).

Dijelaskan Wulan, dari sejumlah kriteria penilaian Proklim maka RW 8 ditunjuk untuk mengikuti lomba tersebut. Sebab penilaian Pemilik tidak hanya melulu masalah penghijauan. Tetapi juga terkait kebersihan lingkungan, pengolahan sampah, pemanfaatan lahan pekarangan, penganekaragaman tanaman, ketahanan pangan, pelestarian mata air, dan masih banyak lagi kriteria yang akan dinilai.

"Di sini juga menjadi salah satu Kampung Tangguh Bencana [KTB], UMKM untuk herbal juga jalan, dan banyak keunggulan lainnya," papar Wulan.

Meski begitu, kata dia, penunjukan RW 8 untuk mewakili Rejowinangun dalam lomba Proklim sebagai salah satu upaya pemerataan. Sebabnya, sebelum RW 8, tahun lalu lomba yang sama juga diikuti oleh RW 12. "Jadi intinya adalah pemerataan agar seluruh RW bisa merasakan manfaat untuk mengikuti lomba. Kami akan lakukan penggesaran secara bertahap," kata Wulan.

Kelengkapan infrastruktur yang memadai untuk mengikuti lomba Proklim 2019, kata Wulan, tidak terlepas dari semangat gotong royong warga RW 8. Mereka dengan kesadarannya ikut menyiapkan dan membangun kampung untuk mengikuti lomba. "Kami hanya memberikan stimulus, seperti tanaman zodia untuk mengusir nyamuk DBD. Selebihnya masyarakat yang mengembangkan," katanya.

Dari sekitar 3.000 batang tanaman zodia sebagai stimulus, sekitar 1.500 batang yang disebar di RW ini. Pasalnya di RW ini pernah menjadi endemik DBD, bahkan tertinggi di Jogja. Selebihnya tanaman yang sama juga disebar di 13 RW lainnya. "Nah, di RW 8 ini program toga sudah berjalan berkesinambungan sejak 2014 lalu. Dengan beragam keunggulan ini, kami layak dan siap untuk maju ke tingkat selanjutnya," kata Wulan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Suyana mengatakan salah satu tujuan utama lomba Proklim ini untuk mendorong masyarakat melakukan adaptasi dan mengambil langkah-langkah mitigasi terhadap berbagai dampak perubahan iklim.

"Perubahan iklim ini memang sudah terjadi. Bisa dilihat dari musim hujan atau kemarau yang berkepanjangan sehingga menimbulkan dampak lingkungan. Setidaknya, melalui Proklim, kita semua bisa mengantisipasi agar perubahan iklim yang terjadi tidak berjalan cepat," urainya.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mengingatkan masyarakat agar setiap wilayah peduli terhadap lingkungan. Misalnya aksi membangun Sumur Peresapan Air Hujan (SPAH), memperbanyak biopori dan juga menanam banyak pohon untuk menjaga kualitas air tanah.