Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Aktivis antikorupsi, Baharuddin Kamba menggelar aksi jalan kaki mundur dengan mata tertutup di Jalan Margo Utomo, Jogja, Jumat (13/08/2019)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang penolakan Rancangan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK) pasca-terbitnya Presiden Joko Widodo dengan pengiriman Surat Presiden (Surpres) beberapa hari yang lalu terus berdatangan. Kali ini aktivis di Jogja Corruption Watch, Baharuddin Kamba, menggelar aksi jalan mundur dari simpang empat Tugu Pal Putih ke arah selatan hingga halte bus Transjogja, Jumat (13/9/2019).
Aksi berdurasi sekitar 30 menit itu dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Kamba beraksi jalan mundur dalam kondisi mata tertutup oleh kain warna hitam sembari membawa bendera merah putih yang dikibarkan setengah tiang. Aksi serupa pernah ia lakukan beberapa kali saat terjadi ancaman pada KPK.
Dia mengatakan aksi jalan mundur ini untuk merespons kondisi KPK saat ini. Menurutnya, dengan Presiden Jokowi yang telah mengirim Surpres kepada DPR perihal pembahasan RUU KPK merupakan langkah mundur pemberantasan korupsi.
"Simbol jalan mundur adalah bentuk keprihatinan saya atas RUU KPK karena Presiden Jokowi pernah berjanji memperkuat lembaga antirasuah itu tetapi nyatanya Jokowi ingkar janji atas pernyataannya. Begitu pula saat Pansel KPK menyerahkan 10 nama Capim KPK, Jokowi menyatakan tidak akan buru-buru mengeluarkan Surpres kepada DPR RI tetapi Jokowi terkesan buru-buru mengirimkannya," ujarnya, Jumat.
Disinggung soal penunjukan Irjen Firli Bahuri sebagai Ketua KPK melalui voting anggota Komisi III DPR RI, Kamba mempertanyakan terkait dengan dasar yang dipakai. Pasalnya Firli dinilai oleh KPK bermasalah namun justru memperoleh suara terbanyak dengan total 56 suara.
Begitu pula dengan mundurnya salah satu pimpinan KPK, Saut Situmorang yang menurut Kamba adalah bukti kekecewaan atas kondisi di KPK. "Tunggu saja apakah langkah Saut mengundurkan diri dari KPK akan diikuti oleh pegawai KPK," katanya.
Sebelumnya, aksi penolakan RUU KPK datang dari beberapa kalangan, di antaranya dosen-dosen UGM, Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM, dan UII. Mereka menyuarakan penolakan lewat pengiriman surat kepada Presiden dan DPR, serta aksi long march.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan dan Alumni UII, Rohidin, menuturkan UII dengan tegas menolak upaya pelemahan KPK, termasuk RUU KPK. “Kami mendesak DPR membatalkan RUU KPK, dan menuntut Presiden untuk tidak mendukung pelamahan KPK dalam rangka mewujudkan Indonesia bebas KKN,” ujarnya.
Jika RUU ini benar ditetapkan, maka pihaknya menyatakan mosi tidak percaya kepada siapa pun pihak yang terlibat dalam pengesahan RUU KPK. Peryataan sikap ini merupakan hasil kajian Pusat Studi Kejahatan Ekonoi UII dan akan diserahkan kepada Presiden Jokowi serta DPR.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Pemkab Gunungkidul meminta dispensasi penggunaan solar untuk bus sekolah akibat kenaikan BBM nonsubsidi yang membebani anggaran operasional.
Debarkasi haji di YIA mulai disiapkan menyambut kepulangan jemaah pada 2 Juni 2026 dengan sistem tanpa asrama pertama di Indonesia.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.