Festival Kue Bulan Sebagai Wujud Rasa Syukur

Pertunjukan cerita Dewi Bulan dalam Zhong Qiu Jie, atau Festival Kue Bulan, di Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Jogja, Jumat (13/9)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
19 September 2019 05:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Festival Kue Bulan atau Zhong Qiu Jie yang digelar di di Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Jogja, Jumat (13/9) berlangsung meriah. Pada gelaran kali ini, panitia tidak hanya menyiapkan drama musikal Dewi Bulan maupun kesenian tradisional, tetapi juga doa lintas agama untuk kepergian Presiden ketiga RI, B. J. Habibie.

Ketua Panitia Zhong Qiu Jie, Ellyn Subiyanti mengatakan perayaan Zhong Qiu Jie mempunyai makna yang sangat penting, untuk berkumpulnya setiap keluarga makan bersama. “Sebagai wujud mensyukuri atas berkah yang diberikan oleh yang Maha Pencipta sambil menikmati indahnya bulan purnama,” ucap Ellyn.

Ia melihat di Jogja perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh keluarga tetapi juga warga Tionghoa dan masyarakat Jogja secara umum. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, diharapkan dengan festival ini turut melestarikan budaya yang ada. “Edukasi masyarakat mengenai keberagaman dan membangun sikap peduli sesama dengan kegiatan semacam ini,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan turut berbahagia dengan perayaan ini. Menurut dia, Festival Kue Bulan ini merupakan salah satu fenomena alam yang indah. “Bagaimana harapan pascapanen di Tiongkok bergembira, kalau di Jawa Rasulan setiap di bulan purnama bermain-main di bawah naungan bulan purnama. Sungguh berbagaia berbagai kelompok umur dengan Moon Cake Festival bisa kumpul semua,” katanya.

Melalui kegiatan ini, kata dia, diharapkan seluruh warga dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh yang Maha Kuasa, dengan upaya kemajuan dan usaha sehingga mendapat berkah. “Kami menyambut bahagia disambut meriah warga sekitar, menjadi peristiwa keluarga yang ada di Poncowinatan maupun Jogja malam ini melihat keberagaman bersama,” katanya.

Ketua I Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto dalam kesempatan yang sama berbagi kisah mengenai sejarah lokasi perayaan acara. Dia menceritakan Kelenteng Poncowinatan ini dibangun sebagai tempat untuk memberikan pendidikan.

“Ini untuk mengenalkan salah satu budaya, sehingga bisa berkumpul tanpa canggung. Kelenteng Poncowinatan ini juga sebagai tempat memberikan pendidikan. Pada 1907 juga sebagai sekolah Tionghoa pertama,” ucapnya.