SP Kinasih Gandeng Anak Muda Menangkal Perilaku Intoleran lewat Seni

Ilustrasi toleransi antar umat beragama. - JIBI
22 September 2019 17:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Selama Juli dan Agustus lalu, Solidaritas Perempuan (SP) Kinasih menggelar lokakarya yang diikuti 40 anak muda. Hasil workshop yang digelar atas kerja sama dengan 30 pegiat seni serta tokoh agama di Jogja itu dipentaskan di Gedung Societeit, kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (21/9/2019).

Koordinator Program SP Kinasih, Sana Ullaili, menjelaskan selama dua bulan organisasinya mengajak anak muda dalam workshop yang dibagi dalam empat kelas, yakni kepemimpinan, musik, teater dan media. "Lokakarya ini jadi ruang perjumpaan bagi anak muda, perempuan, serta transgender dari beragam latar belakang," katanya.

Lokakarya tersebut, kata dia, bertujuan membangun perspektif anak muda dan perempuan tentang keberagaman agama, keyakinan, budaya, keyakinan, identitas gender dan ekspresi berdasarkan perspektif perempuan dan kemanusiaan.

Hasil workshop tersebut dipentaskan dengan mengusung tajuk Youth Stage For Jogja Full of Tollerance. Beberapa karya yang ditampilkan di antaranya poster, pertunjukan musik, teater dan lainnya. “Penyelenggaraannya bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia yang diperingati setiap 21 September,” ujar Sana.

Pengawas SP Kinasih Nasional, Puspa Dewi, mengatakan angka problem intoleransi di Jogja terbilang tinggi. Beberapa kasus yang terjadi seperti misalnya izin mendirikan tempat ibadah, pembubaran bakti sosial, penolakan sedekah laut, pemotongan salib, penolakan warga nonmuslim serta penyerangan gereja.

Di sisi lain, gerakan-gerakan radikalisme yang menyasar anak muda dan menjadikan perempuan sebagai pintu masuk untuk penyebaran paham anti-keberagaman dan pluralisme semakin menguat. Dunia pendidikan dan media sosial ditengarai menjadi ruang strategis penyebaran paham intoleran ini.

"Perlu respons semua elemen stakeholder di Jogja dengan memperbanyak ruang bagi anak muda dan perempuan untuk menjaga dan mengawal Jogja sebagai kota yang mengedepankan nilai-nilai keberagaman dan kemanusiaan," kata dia.