Selasa Wage Malioboro Bernuansa Batik

Kirab batik dalam Malioboro Selasa Wage, Selasa (1/10/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
01 Oktober 2019 22:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Malioboro Selasa Wage kembali dihelat di bulan keempat, menyuguhkan beragam penampilan hiburan bagi warga dan pengunjung pada Selasa (1/10/2019). Kali ini, Malioboro Selasa Wage turut menyambut hari batik nasional, sehingga menghadirkan sejumlah kirab batik.

Jalan Malioboro yang biasa macet, sore itu terlihat tidak ada kendaraan bermotor, kecuali satu-dua Trans Jogja yang lalu lalang. Di Malioboro, setiap Selasa Wage diberlakukan semi pedestrian, sehingga jalanan pun dipenuhi pangunjung. Mereka memanfaatkan momen sebulan sekali ini untuk menikmati suasana dan berfoto.

Sementara itu di sepanjang pinggir Jalan Malioboro diramaikan oleh beragam penampilan dan talk show yang didukung oleh Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Kebudayaan DIY. Sore itu, ada 21 penampilan dan talk show.

Beberapa penampilan itu diantaranya Dagelan Seni Bocah, Flashmob Kominitas Jageran,  Ekspose Sejarah, Pameran Warisan Budaya, Gelar Museum Sandi, edukasi batik, permainan tradisional anak, musik keroncong Nahoga dan lainnya.

Beberapa titik yang jadi venue diantaranya di depan Hotel Grand Inna Malioboro, depan DPRD DIY, depan UPT Malioboro, Gerbang Kepatihan Barat, depan Gapura Pecinan Ketandan, Pasar Beringharjo, Plaza SO 1 Maret, dan Titik Nol Km.

Di jalan, beberapa kirab semakin memeriahkan suasana, yang terdiri dari Beregada Tradisi Hamzah, Bregada Pasar dan Batik Sekar Jagad. Dengan mengenakan batik dan beragam properti kirab-kirab ini mewarnai sepanjang Jalan Malioboro.

Kabid Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Aria Nugrahadi, mengatakan secara umum Selasa Wage kali ini sama dengan beberapa penyelenggaraan yang lalu. "Kami berkolaborasi untuk mengevaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya," ujarnya.

Ia menyebutkan salah satu poin evaluasi itu yakni seharusnya Selasa Wage menjadi momen untuk membersihkan Malioboro, namun dengan banyaknya pengunjung justru tambah banyak.

"Kedua guiding block bagi para difabel ternyata banyak yang tertutup oleh panggung dan pengunjung. Lalu Trans Jogja kan juga melintas, sehingga keamanan perlu menjadi perhatian kita," ujarnya.

Maka Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Perhubungan dan UPT Malioboro telah menyepakati syarat ketentuan penampil, diantsranya sound yang dipakai tidak terlalu keras, tidak menutup guidong block, menjaga kebersihan, dan mengamankan setiap performancenya jika sampai ke badan jalan.

Ia berharap Malioboro memiliki hari lain selain Selasa Wage untuk dikhususkan sebagai hari performance. "Selasa wage kalau bisa dibuat istirahat, karena Malioboro juga perlu istirahat," ungkapnya.