Asosiasi Dorong Pengusaha Makanan Gunakan Minyak Goreng yang Berizin dari BPOM

Pedagang sedang mengecerkan minyak goreng curah di Pasar legi Solo. - Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
09 Oktober 2019 01:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Asosiasi Pengusaha Minuman dan Makanan (Aspika) Sleman menanggapi dengan santai terkait dengan wacana pelarangan minyak goreng curah yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan.

Ketua Aspika Sleman Mukhlis Hari Nugroho mengatakan larangan penggunaan minyak goreng curah justru diharapkan dapat meningkatkan mutu produk.

Kendati demikian, Mukhlis mendorong agar nantinya selisih harga minyak tidak terlampau tinggi. "Ketika dikemas, naiknya jangan selisih terlalu banyak, harganya tidak harus sama, namun setidaknya sebanding, karena kami juga memahami pasti ada biaya untuk kemasan dan pengolahan," ujar Mukhlis, Selasa (8/10/2019).

Adapun, dari segi kualitas dan kebersihan, ketika dikemas dalam ukuran 1 liter, 2 liter maupun 5 liter diharapkan minyak goreng nantinya akan lebih terjamin.

"Dengan demikian, pedagang juga lebih nyaman dalam menggunakannya. Berbeda dengan produk curah yang tidak mencantumkan nomer PIRT bahkan BPOM," paparnya.

Berdasarkan informasi yang diterima dari Ketua Aspika, pengusaha yang bergabung di dalam Aspika Sleman berjumlah kurang lebih 80 orang. "Sekitar separuhnya menggunakan minyak goreng untuk proses produksi," ujarnya.

Aspika, lanjut Mukhlis, tidak pernah memberi imbauan atau arahan kepada anggotanya untuk menggunakan minyak goreng jenis tertentu. Namun, ia mendorong untuk menggunakan produk minyak yang telah mengantongi legalitas dari Dinas Kesehatan atau BPOM.

Aspika juga sering mendapat pelatihan dari Dinkes kabupaten Sleman. Adapun, terkait wacana pelarangan minyak goreng curah, menurut Mukhlis, belum semua anggotanya tahu namun diharapkan bisa direspons dengan bijak.

"Untuk industri skala rumahan, penggunaan minyak goreng belum terlalu banyak, paling dua liter cukup. Harapannya dengan memakai minyak kemasan, tidak berimbas banyak terhadap omset. Kualitas makanan semakin baik tapi kenaikan harga juga jangan terlalu tinggi," tutupnya.

Salah satu pedagang angkringan di taman kuliner Denggung, Arniati, 54, asal Kebongagung Tridadi, Sleman, mengatakan jika ia lebih memilih minyak goreng kemasan karena gorengan buatannya lebih bagus hasilnya jika dibandingkan dengan menggoreng dengan minyak goreng curah. "Untuk wajan juga lebih bagus, gorengannya juga lebih bagus," ujarnya.

Kendati demikian, ia dulu pernah mencoba menggunakan minyak goreng curah untuk menggoreng dan hasilnya gorengan buatannya sangat berminyak. "Kalau saya enjoy pakai kemasan, dibawa tidak tumpah, walaupun selisihnya itu lebih mahal minyak goreng kemasan

Ia juga menanggapi pelarangan minyak goreng curah dengan santai. "Ditarik tidak masalah, karena tidak pakai, saya terus terang tidak pernah pakai minyak curah," tutupnya.