PAD Wisata Gunungkidul Melejit, Dewan Minta Target Dinaikkan
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026. DPRD meminta target pendapatan daerah dinaikkan saat APBD Perubahan.
Warga manfaatkanTelaga Sureng, di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, untuk bercocoktanam, Selasa (24/7/2018). /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Masyarakat diimbau untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian telaga atau embung. Hal ini dibutuhkan agar keberadannya dapat berfungsi secara normal sehingga masalah kekeringan bisa diatasi.
Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, jumlah telaga di Bumi Handayani tercatat sebanyak 460 titik. Namun dari jumlah tersebut ratusan telaga mengalami pendangkalan sehingga banyak yang mengering saat kemarau. Selain itu, ada puluhan telaga yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian bahkan dibangun menjadi kompleks sekolah.
Kepala Bidang Pengairan DPUPRKP Gunungkidul, Taufik Aminudin, mengatakan banyak telaga di Gunungkidul yang kondisinya rusak karena pendangkalan. Selain itu, ada juga telaga yang rusak karena ulah usil dari tangan manusia. Salah satunya bisa dilihat di Embung Giripanggung di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong.
Menurut dia, embung yang dibangun pada 2015 itu harus diperbaiki lantaran lapisan geomembran bocor. Kebocoran terjadi lantaran ada warga yang melempar batu ke dalam embung. “Kami belum cek lagi kondisi terkini. Yang jelas, saat diperbaiki di dasar embung banyak batu yang mengakibatkan lapisan geomembran bocor,” katanya kepada Harian Jogja, Senin (14/10/2019).
Ia berharap masyarakat ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga kelestarian telaga. Hal ini dibutuhkan agar keberadaannya dapat memberikan manfaat khususnya saat musim kemarau. “Kalau ada kerusakan, upaya perbaikan harus segera dilakukan. Tapi agar tidak cepat rusak, masyarakat harus ikut menjaga, salah satunya dengan penghijauan atau tidak melempar batu ke dasar embung yang menggunakan lapisan geomembran, sebab batu-batu itu bisa merusak lapisan plastik yang berfungsi menampung air,” katanya.
Kepala Seksi Pembangunan Bidang Pengairan DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menambahkan permasalahan telaga tidak hanya karena pendangkalan. Berdasar pantauan, ada sekitar 27 telaga yang kondisinya telah mati. Bahkan oleh warga sekitar telaga-telaga yang mati ini dialihfungsikan untuk kegiatan lain seperti lahan pertanian.
Sebagai contoh ada satu telaga di Desa Jepitu, Kecamatan Tepus, yang diubah menjadi sekolahan. Namun dari sekian banyak, alih fungsi paling banyak yakni dijadikan lahan pertanian. “Perubahan didominasi untuk lahan pertanian,” katanya.
Sigit menambahkan perubahan ini terjadi karena telaga sudah tidak berfungsi dengan semestinya. Seharusnya, keberadaan telaga bisa menampung air yang bisa digunakan untuk saluran irigasi saat kemarau. Namun lantaran ada pendangkalan telaga tidak berfungsi lagi karena dipenuhi tumpukan lumpur. “Setelah dangkal dan tak bisa lagi menampung air, eks telaga banyak digunakan untuk area pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026. DPRD meminta target pendapatan daerah dinaikkan saat APBD Perubahan.
Liverpool resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah gagal meraih trofi musim 2025/2026. Andoni Iraola disebut masuk radar pengganti.
Kemenkes mengintegrasikan skrining kanker usus dalam Program Cek Kesehatan Gratis. Sebanyak 11.000 hasil positif ditemukan dari peserta skrining.
Harga iPhone di iBox pada Mei 2026 mayoritas naik. iPhone 15 dan iPhone 17 mencatat kenaikan terbesar, sementara iPhone 14 justru turun.
Stellantis menarik 419.035 unit Jeep Grand Cherokee di AS akibat gangguan software yang berpotensi menghambat pengembangan airbag samping saat kecelakaan.
Seekor ular kobra sepanjang 1,2 meter dievakuasi dari rumah warga di Prambanan, Klaten. Polisi mengimbau warga tidak menangkap ular sendiri.