Gunungkidul Krisis Air Saat Kemarau, Sungai Bawah Tanah Jadi Solusi
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Warga manfaatkanTelaga Sureng, di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, untuk bercocoktanam, Selasa (24/7/2018). /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Masyarakat diimbau untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian telaga atau embung. Hal ini dibutuhkan agar keberadannya dapat berfungsi secara normal sehingga masalah kekeringan bisa diatasi.
Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, jumlah telaga di Bumi Handayani tercatat sebanyak 460 titik. Namun dari jumlah tersebut ratusan telaga mengalami pendangkalan sehingga banyak yang mengering saat kemarau. Selain itu, ada puluhan telaga yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian bahkan dibangun menjadi kompleks sekolah.
Kepala Bidang Pengairan DPUPRKP Gunungkidul, Taufik Aminudin, mengatakan banyak telaga di Gunungkidul yang kondisinya rusak karena pendangkalan. Selain itu, ada juga telaga yang rusak karena ulah usil dari tangan manusia. Salah satunya bisa dilihat di Embung Giripanggung di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong.
Menurut dia, embung yang dibangun pada 2015 itu harus diperbaiki lantaran lapisan geomembran bocor. Kebocoran terjadi lantaran ada warga yang melempar batu ke dalam embung. “Kami belum cek lagi kondisi terkini. Yang jelas, saat diperbaiki di dasar embung banyak batu yang mengakibatkan lapisan geomembran bocor,” katanya kepada Harian Jogja, Senin (14/10/2019).
Ia berharap masyarakat ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga kelestarian telaga. Hal ini dibutuhkan agar keberadaannya dapat memberikan manfaat khususnya saat musim kemarau. “Kalau ada kerusakan, upaya perbaikan harus segera dilakukan. Tapi agar tidak cepat rusak, masyarakat harus ikut menjaga, salah satunya dengan penghijauan atau tidak melempar batu ke dasar embung yang menggunakan lapisan geomembran, sebab batu-batu itu bisa merusak lapisan plastik yang berfungsi menampung air,” katanya.
Kepala Seksi Pembangunan Bidang Pengairan DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menambahkan permasalahan telaga tidak hanya karena pendangkalan. Berdasar pantauan, ada sekitar 27 telaga yang kondisinya telah mati. Bahkan oleh warga sekitar telaga-telaga yang mati ini dialihfungsikan untuk kegiatan lain seperti lahan pertanian.
Sebagai contoh ada satu telaga di Desa Jepitu, Kecamatan Tepus, yang diubah menjadi sekolahan. Namun dari sekian banyak, alih fungsi paling banyak yakni dijadikan lahan pertanian. “Perubahan didominasi untuk lahan pertanian,” katanya.
Sigit menambahkan perubahan ini terjadi karena telaga sudah tidak berfungsi dengan semestinya. Seharusnya, keberadaan telaga bisa menampung air yang bisa digunakan untuk saluran irigasi saat kemarau. Namun lantaran ada pendangkalan telaga tidak berfungsi lagi karena dipenuhi tumpukan lumpur. “Setelah dangkal dan tak bisa lagi menampung air, eks telaga banyak digunakan untuk area pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
KPK menyita uang lebih dari Rp6 miliar seusai memeriksa tiga pejabat imigrasi dalam kasus dugaan pemerasan izin tinggal WNA.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menekankan agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilantik menjalankan amanah yang sudah diberikan. Pejabat yang dilanti
Honda membuka peluang mempertimbangkan kembali Fit di AS. Simak kabar terbaru soal Honda Jazz dan peluang hatchback legendaris itu kembali ke Indonesia.
DPRD Gunungkidul menargetkan Raperda RTRW 2026-2046 disahkan Senin (31/8/2026) setelah persetujuan substansi pemerintah pusat terbit.
Keamanan rekening berawal dari HP. Simak 9 kebiasaan yang perlu dihindari serta tips aman menggunakan mobile banking agar data dan uang tetap terlindungi.