JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul Bakal Punya Rest Area, Jadi Tempat Wisata
JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul ditargetkan dibuka September 2026. Kawasan ini diwacanakan memiliki rest area, UMKM, dan gardu pandang.
Puluhan honorer K2 saat menyampaikan aspirasi di DPRD Bantul, Senin (17/9). /Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rasyid, memastikan sulit untuk merealisasikan wacana dari Pemerintah Pusat untuk mengaji guru honorer setara dengan upah minimum kabupaten (UMK). Hal ini tidak lepas dari kemapuan anggaran yang dimiliki Pemkab yang sangat terbatas.
“Kalau dibebankan ke daerah jelas berat karena anggaran yang terbatas. Beda ceritanya kalau Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran khusus untuk honorer, maka kebijakan tersebut bisa direalisasikan,” kata Bahron kepada wartawan, Selasa (22/10/2019).
Menurut dia, kesejahteraan guru honorer maupun pegawai tidak tetap dan guru tidak tetap masih menjadi persoalan tersendiri. Meski demikian, tak berarti Pemkab tinggal diam karena upaya memperbaiki kesejahteraan guru non-PNS terus dilakukan.
Sebagai gambaran, Pemkab berusaha memberikan insentif untuk peningkatan kesejahteraan. Untuk tahun ini ada 776 guru honorer yang mendapatkan insentif Rp700.000 hingga Rp800.000 per bulan. “Belum menyasar ke seluruh pegawai honorer, tetapi kami terus berusaha,” katanya.
Dia menjelaskan pemberian insentif kepada guru honorer yang mendapatkan SK melalui perjuangan panjang karena harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. “Harus melalui kajian yang panjang sehingga kebijakan ini tidak menjadi beban. Yang jelas, kami terus berusaha tapi kalau sesuai dengan UMK masih sulit,” tuturnya.
Ketua Forum Honorer Sekolah Negeri (FHSN) Gunungkidul, Aris Wijayanto, mengakui sudah ada upaya peningkatan kesejahteraan yang dilakukan Pemkab melalui pemberian insentif. Meski demikian, jumlah yang diberikan masih jauh di bawah UMK yang berlaku saat ini. “Dengan adanya SK maka guru honorer mendapatkan insentif Rp700.000 per bulan,” katanya.
Dia berharap kesejahteraan guru non-PNS bisa ditingkatkan. Selain itu, juga ada harapan untuk diberikan fasilitas kesehatan dari pemerintah. “Untuk menjadi peserta mandiri sulit karena insentif yang diberikan masih kecil, tapi untuk bantuan juga sulit mengakses karena status sebagai guru honorer. Sebagai gambaran, pada saat pendataan seringkali dilewatkan, padahal dari sisi pendapatan masih jauh dari UMK,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul ditargetkan dibuka September 2026. Kawasan ini diwacanakan memiliki rest area, UMKM, dan gardu pandang.
Seto Nurdiantoro dipercaya menjadi Direktur PSS Muda Akademi untuk memperkuat pembinaan dan mencetak talenta baru bagi PSS Sleman.
Bencana Nepal-China menewaskan 1.130 orang. Pakar mengingatkan risiko pembangunan bendungan besar di kawasan pegunungan Himalaya.
Sebanyak 75 ribu orang mengikuti seleksi petugas haji 2026. Dari jumlah itu, kurang dari 1.000 orang akan diterima sebagai PPIH.
Peneliti Jepang mengembangkan program e-Bocchi untuk membantu anak menghadapi kesepian, meningkatkan kemampuan mencari bantuan, dan mencegah depresi.
Petisi penolakan proyek geothermal Gunung Ungaran menembus 7.000 dukungan. Pemprov Jateng memastikan perizinan dan amdal dikaji ketat.