Kampus di Jogja Perlu Mendirikan Pusat Karier, Ini Keuntungannya Bagi Alumni

Ilustrasi wisuda perguruan tinggi - Antara
23 Oktober 2019 20:57 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Perguruan tinggi dinilai penting membangun pusat karier. Keberadaan pusat karier menjadi jembatan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja setelah mahasiswa lulus nanti.

"Tujuannya agar sumber daya manusia di Indonesia siap menghadapi tantangan lain berupa Revolusi Industri 4.0," kata Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemendikbud, Didin Wahidin, dalam Seminar Nasional Pengembangan Layanan Pusat Karier pada Rabu (23/10/2019) di Digital Library UNY.

Sebagai jembatan menuju dunia kerja, pusat karier harus memberi kegiatan nyata dalam membina mahasiswa menjadi orang-orang yang berdaya. Pusat karier juga diharapkan memberi warna tersendiri bagi alumni perguruan tinggi, sejak mereka masuk kuliah hingga lulus kuliah. Di sisi lain, pusat karier juga dapat menciptakan alumni-alumni yang berdaya.

Terkait dengan gambaran dunia kerja ke depan, Didin menambahkan pentingnya mahasiswa menguasai soft skills tidak hanya hard skills, karena dunia kerja sekarang banyak memberi bobot pada soft skills. "Keduanya harus seimbang," kata dia.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sutrisna Wibawa, mengungkapkan lembaganya dalam menyusun kurikulum perguruan tinggi telah memikirkan, mahasiswa setelah menempuh kuliah empat tahun akan menguasai kompetensi apa. “Namun kami juga masih gamang karena apa yang kami siapkan sekarang, empat tahun kemudian bisa berubah,” kata Sutrisna.

Itu sebabnya kata dia, butuh pusat karier untuk merespons perubahan yang begitu cepat dan sulit diprediksi. Pengembangan karier tidak semata hanya pengembangan sistem namun juga ada hal yang secara akademik bisa diambil untuk mengembangkan profesi ke depan dengan dilandasi teknologi.

Ia berharap dari penelitian mengenai situasi alumni khususnya para pencari kerja atau tracer study ada nilai-nilai akademik yang bisa dikembangkan sehingga kurikulum bisa dinamis, bahkan bisa berubah walau di tengah semester. "Tracer study juga diharapkan dapat terintegrasi dengan akreditasi, baik program studi maupun institusi," kata dia.