Jogja Terasa Gerah Pada Malam Hari, Ternyata Ini Penyebabnya

Ilustrasi cuaca. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
23 Oktober 2019 18:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Suhu udara di DIY, belakangan ini terasa gerah pada malam hari.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Etik Setyaningrum, mengatakan faktor yang menjadi penyebab suhu udara terasa gerah di malam hari karena adanya kandungan uap air (RH) yang cukup besar di udara. Kondisi ini menyebabkan adanya proses penguapan hingga pembentukan awan.

"Penyebab suhu cukup panas gerah juga dikarenakan posisi gerak semu Matahari saat ini masih berada di kisaran wilayah kita (selatan equator), oleh sebab itulah suhu udara terasa cukup panas," ujar Etik kepada Harianjogja.com, Rabu (23/10/2019).

Kondisi ini, lanjut Etik, menyebabkan adanya proses penguapan hingga pembentukan awan. Dengan adanya tutupan awan ini maka radiasi balik Bumi ke atmosfer tertahan oleh awan, sehingga tidak bisa keluar bebas ke angkasa tetapi dipantulkan kembali ke Bumi.

"Sehingga suhu udara di Bumi terasa lebih gerah. Hal ini bisa menjadi juga pertanda bahwa wilayah DIY akan memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan," jelasnya.

Berdasarkan data dari BMKG Staklim Mlati Yogyakarta, suhu udara rata-rata dalam beberapa hari ini dari pantauan di DIY suhu minimum di malam hingga pagi hari berkisar berkisar 22-24 derajat celsius dan maksimum di siang hari mencapai 31-33 derajat celsius.

"Bahkan pantauan pada siang hari tanggal 21 Oktober suhu udara mencapai hingga 36 derajat celsius dan pada siang hari ini tercatat 32,0 derajat celsius," terangnya.

Diprakirakan awal musim hujan 2019/2020 DIY umumnya terjadi pada November. Apabila dibandingkan dengan kondisi normalnya, maka awal musim hujan tahun ini mengalami kemunduran 10-20 hari dari kondisi umumnya.
"Puncak musim hujan diprediksi terjadi di bulan Januari-Februari 2020," ungkapnya.