Anggaran Dropping Air Bersih di 5 Kecamatan Habis

Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan jatah air bersih. - Harian Jogja/Desi Suryanto
25 Oktober 2019 20:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat memasuki pekan terakhir Oktober, sebanyak lima kecamatan kehabisan anggaran penanggulangan bencana kekeringan. Kelima kecamatan tersebut masing-masing Kecamatan Patuk, Paliyan, Tanjungsari, Tepus dan Purwosari.

Kepala Pelaksana (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, menjelaskan jajarannya telah berkoordinasi dengan seluruh pemerintah kecamatan terdampak bencana kekeringan terkait dengan habisnya anggaran. Meski anggaran habis, bantuan dari pihak swasta terus mengalir.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan di wilayah terdampak, dan hasilnya meski anggaran dropping dari pemerintah habis, bantuan dari pihak swasta terus mengalir, sehingga masyarakat tetap memperoleh bantuan air bersih,” kata Edy, Rabu (23/10/2019).

Ia menuturkan banyaknya bantuan dari pihak swasta membuat status bencana kekeringan di Gunungkidul tidak dinaikkan menjadi level darurat kekeringan. Selain itu, masih ada kecamatan lainnya yang memiliki sisa anggaran dan bisa dipergunakan untuk penyaluran air bersih hingga November 2019. “Pengedropan air juga dilakukan oleh Tagana Dinas Sosial Gunungkidul tapi untuk jumlah dan lokasinya kami tidak tahu,” ujarnya.

Edy menjelaskan hingga saat ini anggaran untuk dropping air yang dimiliki BPBD Gunungkidul terus berkurang. Ia menuturkan hingga pertengahan Oktober dana yang tersisa hanya Rp164 juta.

Dampak kekeringan di Gunungkidul terus meluas. Salah satu contoh terbaru, sebanyak 104 kepala keluarga di Dusun Gunungasem, Desa Ngoro-Oro Kecamatan Patuk, dilaporkan kesulitan memperoleh air bersih sejak sebulan terakhir. Salah seorang warga Dusun Gunungasem, Mujib, mengaku warga di dusunya kesulitan memperoleh air bersih karena sumur yang selama ini diandalkan telah kering. "Kemarau tahun ini cukup panjang, dan baru kali ini kami harus membeli air,” kata dia.

Dalam sebulan terakhir warga sudah membeli air dari pedagang swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga air bervariasi mulai dari Rp150.000 hingga Rp170.000 per tangki kapasitas 5.000 liter.