Ini Wilayah Sleman yang Jadi Sarang Demam Berdarah

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
28 Oktober 2019 21:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Selama 2019, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sleman melonjak drastis. Kasus DBD paling banyak terjadi di Kecamatan Depok.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, di 2019 sampai September total sudah ada 664 kasus DBD dengan satu orang meninggal dunia. Dari 664 kasus itu, paling banyak terjadi di Kecamatan Depok sebanyak 116 kasus.

"Faktornya karena mobilitas penduduk tinggi, kepadatan penduduk juga Depok paling tinggi dibanding kecamatan lain di Sleman. Banyak kos-kosan, orang luar kerja, kuliah di Depok," ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini pada Senin (28/10/2019).

Ia mengatakan, untuk wilayah Depok pihaknya meningkatkan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "Upaya pencegahan sudah berjalan. Ada tiap Jumat di tingkat Pokja (Kelompok kerja) desa bersih-bersih dan pemantauan jentik secara berkala," ungkap Dulzaini. 

Ia mengatakan, faktor kebersihan lingkungan pihaknya coba tekankan untuk mencegah timbulnya kasus DBD. Lingkungan yang tidak terawat membuat jentik nyamuk berkembang.

Di tahun ini, kasus DBD melonjak drastis, bahkan sampai hampir lima kali lipatnya. Sampai September tahun ini saja sudah ada 664 kasus DBD di Sleman dengan satu orang meninggal dunia. Sedangkan tahun lalu, total ada 144 kasus DBD di Sleman dengan satu orang meninggal dunia akibat DBD.

Menjelang musim penghujan, masyarakat diimbau untuk menjaga lingkungan dari jentik nyamuk penyebab DBD. "Kita mulai intensifkan lagi pencegahan. Karena di saat musim penghujan, jentik nyamuk berkembang. Warga harus mewaspadainya, mulai dari menutup bak-bak air, penampungan air, mengubur barang-barang yang bisa menampung air seperti botol," ujar Dulzaini.