Limbah Batik Kayu di DIY Jadi Sorotan Akademisi

Ilustrasi batik. - Bisnis Indonesia/Rachman
31 Oktober 2019 02:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pertumbuhan kerajinan batik kayu di DIY setiap tahunnya meningkat. Kendati demikian, para pengusaha belum memikirkan dampak limbah kayu terhadap lingkungan.

Industri batik kayu di DIY antara lain terdapat di Desa Wisata Krebet, Bantul serta Desa Wisata Bobung, Gunungkidul. Kedua industri ini sudah berjalan lebih dari 20 tahun.

Di kedua desa wisata ini, industri batik kayu berperan penting terhadap percepatan peningkatan ekonomi masyarakat. Selain itu, industri ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Peneliti dari Fakultas Kehutanan UGM, Mukhlisan, mengungkapkan seiring peningkatan produksi batik kayu, permasalahan lingkungan juga semakin meningkat. Menurutnya produksi batik kayu berpotensi mencemari lingkungan, baik tanah, air tanah maupun sumur warga.

"Ada dua jenis limbah yang berpotensi sebagai pencemar. Pertama limbah cair, ini berasal dari sisa pewarnaan. Sedangkan limbah padat berasal dari sisa malam, sisa pewarna serta serpihan kayu," jelas Mukhlisan, dalam Diskusi Pengolahan Limbah Batik Kayu Berbasis Masyarakat yang diadakan di Pusat Studi Pariwisata UGM, pada Rabu (30/10/2019).

Dia menyebut untuk di Desa Wisata Krebet, rata-rata limbah cair yang dihasilkan per bulan sebanyak 419 liter. Jika ditotal per bulan, semua sanggar industri yang ada di Desa Wisata Krebet menghasilkan 1.257 liter limbah cair.

Sedangkan untuk Desa Wisata Bobung, dalam satu bulan rata-rata satu sanggar menghasilkan 182 liter limbah cair. Total semua sanggar yang ada di Desa Wisata Bobung per bulan menghasilkan 546 liter limbah cair.

"Untuk limbah padat sisa kayu, rata-rata dalam satu bulan di Desa Wisata Krebet mencapai 17,712 meter kubik. Sedangkan di Desa Wisata Bobung mencapai 11,404 meter kubik. Angkanya memang belum begitu besar, tapi ketika ada proses pengamplasan, yang perlu dikhawatirkan adalah debu yang dihasilkan," jelas dia.

Menurutnya untuk kondisi air sumur, saat ini belum ditemukan pencemaran. Namun, tindakan antisipasi dan pencegahan perlu dilakukan, lantaran bahan kimia yang ada dalam limbah cair sangat berbahaya terhadap kesehatan.

Adapun untuk kondisi tanah, yang perlu diantisipasi yakni adanya krom, tembaga, timbal maupun seng yang melebihi baku mutu.

"Krom ini bersifat racun bagi manusia, hewan maupun tumbuhan. Berbahaya bagi pernapasan dan menyebabkan kanker paru-paru. Sedangkan bahaya dari seng sendiri menyebabkan gangguan fisik, diare yang berat, keram perut dan muntah," katanya.

Peneliti dari Teknik Sipil UGM, Budi Kamulyan, menyatakan perlu ada pengelolaan limbah industri berbasis masyarakat, yang bersifat sederhana, praktis, efektif dan efisien.

Solusi yang ditawarkan yakni dengan membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dikelola bersama oleh para perajin batik kayu.