Batik Dikolaborasikan dengan Pop Art

Agus Handoyo di depan salah satu karyanya, Sabtu (13/7/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
18 Juli 2019 10:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Batik masih banyak diartikan sebatas motif kain yang merujuk pada tradisi tertentu. Padahal, lebih dari itu, batik merupakan serangkaian proses menggambar pada kain dengan pakem tradisional. Jika di Jawa, produksi batik setidaknya harus memenuhi unsur peralatan seperti canting, malam dan proses pewarnaan dengan dicelup.

Namun sayangnya batik sering tidak sesuai dengan gaya anak muda. Ia lebih identik dengan pakaian orang tua, formal dan tidak kekinian. Oleh sebab itu beberapa perajin batik muda mencoba bereksperimen dengan batik agar mampu menyesuaikan dengan budaya masa kini.

Salah satunya dilakukan oleh Agus Handoyo. Pemuda warga Sosromenduran ini mencoba mengkolaborasikan batik dengan kemeja pattern. Patern merupakan motif kemeja dengan ciri objek yang diulang-ulang. Motif ini beberapa tahun terakhir sedang menjadi tren.

Gagasan ini berangkat pada sekitar 2016 lalu, ketika ia mulai bosan dengan kemeja pattern yang modelnya itu-itu saja. Di sisi lain ia melihat batik yang ada kebanyakan kurang serasi dengan jiwa anak muda. Maka munculah daya inovasinya untuk memadukan keduanya.

Proses pembuatan persis seperti batik tulis, secara manual dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kata dia, untuk menghasilkan satu produk bisa memakan waktu setidaknya satu minggu. dalam hal produksi, ia bekerjasama dengan beberapa pengerajin dan penjahit.

Untuk motif, ia tidak menggunakan motif batik tradisional pada umumnya, melainkan banyak memasukkan unsur pop art sebagai objek utamanya, sehingga lebih eye cathing bagi kawula muda. “Batik itu bukan sekadar motif, tapi bagaimana kain itu dibuat,” kata dia.

Meski demikian , mahasiswa Seni Rupa ISI ini tetap berusaha menjaga makna-makna otentik sebuah kain batik. Meski dipadukan dengna unsur pop art dan motif pattern sebagai kemasannya, tema utama karyanya tetap memakai budaya lokal.

Ia menjelaskan saat ini sedang mempersiapkan objek dolanan anak. Menurutnya, dolanan anak memiliki arti filosofis yang sangat bagus untuk masyarakat. “Dolanan anak tradisional memungkinkan ank-anak untuk srawung, nilai kekeluargaannya lebih, itu yang ingin saya ceritakan dalam karya ini,” ujarnya.

Selain itu ia juga sedang mempersiapkan trilogy local culture, yakni hewan, kembang dan senjata. Hewan yang ia ambil adalah yang berpengaruh di dunia wayang, seperti naga, buaya, ikan dan sriti. Lalu bunga ia mengambil bunga lokal seperti kanthil, mawar,cempaka dan wijayakusuma, yang sering digunakan dalam seremoni tradisional masyarakat.

Lalu senjata, ia juga mengangkat senjata tradisional seperti keris, bandil, trisula, tombak, plintheng dan sebagainya. “Tinggal dirilis, desainnya sudah jadi semua,” kata dia.

Selain sebagai upaya nguri-uri budaya Jawa, apa yang dilakukan Agus ini juga menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan jika UMKM merupakan sokoguru perekonomian masyarakat. “Maka diperlukan upaya serius dari pemerintah bersama seluruh masyarakat untuk mengembangkan potensi di setiap UMKM,” katanya.