Rencana Penambangan Diprotes Warga

Salah satu spanduk penolakan rencana penambangan pasir di Sungai Gendol, tepatnya di Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Kamis (31/10/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
31 Oktober 2019 21:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Rencana penambangan pasir dan batu di Sungai Gendol di Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak bikin warga resah. Masyarakat menganggap penambangan yang dilakukan oleh CV Kayon itu akan mengganggu ketersediaan air bagi warga.

Warga Dusun Kejambon Lor, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Basuni mengatakan Sungai Gendol yang jadi calon lokasi penambangan tersebut sudah lama diandalkan warga untuk kebutuhan air bersih dan persawahan. Apabila rencana penambangan itu terealisasi, dia khawatir kebutuhan air dari sekitar 600 keluarga di sekitarnya akan terdampak.

Menurut Basuni, setidaknya enam dusun di Desa Sindumartani menggantungkan ketersediaan air dari Sungai Gendol. Keenam dusun itu di antaranya adalah Dusun Kejambon Lor, Kejambon Kidul, Pencar, Kentingan, dan Murangan. "Ada empat titik sumber mata air, untuk minum. Itu juga dipakai untuk pengairan sawah. Sudah empat tahunan untuk mengairi sawah. Tanahnya subur, hasil panen juga bagus," ujar pria berusia 48 tahun itu, Kamis (31/10/2019).

Kini, dia mengaku banyak warga yang resah dengan rencana penambangan pasir dan batu. "Mata air takutnya akan hilang. Maka kami warga Sindumartani kompak menolak," kata Basuni.

Sebenarnya, rencana penambangan di Sungai Gendol, Desa Sindumartani itu sudah dimulai sejak 2016 silam. Namun, lantaran waktu itu juga ada penolakan dari warga, pihak penambang lantas membatalkan rencananya. Tahun ini, perusahaan yang sama muncul lagi dan berencana menambang di lokasi yang sama. “Sikap warga pun tetap sama, menolak,” ucap dia.

Basuni menjelaskan sosialisasi dari perusahaan penambang sebenarnya sudah dilakukan. Saat warga diberitahu bahwa penambangan itu akan dilakukan di lahan seluas 5,06 hektare. Nantinya, ketika beroperasi, diperkirakan sampai 36 truk keluar masuk lokasi tambang. “Kontrak tambang akan berlangsung selama empat tahun 11 bulan dalam masa kerja 600 hari,” ujar Basuni.

Penolakan warga, pun kata dia, sudah direspons, bahkan mediasi sudah dilakukan sampai tiga kali. Basuni mengatakan warga sudah mendatangi berbagai instansi untuk menyampaikan penolakan rencana penambangan itu.

Dokumen Amdal

Kini masyarakat hanya berharap pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman. Pasalnya perizinan di tingkat provinsi sudah rampung. "Tinggal DLH Sleman, karena Analisi Mengenai Dampak Lingkungan [Amdal] yang belum. Kami sudah sampaikan penolakan kami. Harapannya DLH tidak keluarkan Amdal," ujar Basuni.

Dari pantauan Harian Jogja di lokasi, meskipun belum ada alat berat, namun di samping Sungai Gendol sudah mulai ada pembangunan yang direncanakan untuk kantor CV Kayon. Beberapa pegawai CV Kayon pun terlihat memantau pekerja yang sedang membangun kantor berlantai dua itu. "Ini untuk kantor, sudah dibangun dua bulan yang lalu," ujar salah satu pegawai CV Kayon, Zulfakar Indrasakti pada Kamis.

Saat ditanyai rencana penambangan dan upaya penolakan warga, ia mengaku tidak tahu menahu. "Yang jelas kita hanya disuruh dirikan kantor, agar kalau beroperasi [penambangan] nanti, kantornya sudah siap," tutur Zulfakar.

Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya mengatakan pengajuan Amdal sudah diajukan oleh CV Kayon. Namun, sampai saat ini Pemkab belum menerbitkan Amdal tersebut. "Baru proses. Pada prinsipnya izin lingkungan semua harus klir, baik teknis, sosial, biotik, maupun abiotik. Kalau ada penolakan berarti kan lingkungan sosial belum klir," kata Dwi.