JVWF 2019, Bukti Nyata Kreativitas dan Pengorbanan Demi Mobil Kesayangan

Pengunjung menyaksikan Jogja Volkswagen Festival (JVWF) 2019 di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (9/11/2019). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
09 November 2019 20:27 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-- Jogja Volkswagen Festival (JVWF) 2019 kembali digelar di Jogja Expo Center (JEC), mulai Sabtu (9/11/2019).

Ada ratusan mobil lawas yang didominasi VW dipamerkan di JEC. Puluhan di antaranya diberikan tempat istimewa dalam gedung karena masuk dalam kasta tertinggi dengan harga ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Mobil-mobil ini cukup menyita perhatian pengunjung.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo yang hadir dalam pembukaan mengakui, event tersebut memberikan dampak bagi pariwisata di DIY, karena dalam sehari diperkirakan lebih dari 5.000 orang hadir. Di sisi lain, kegiatan ini mampu mempersatukan berbagai kalangan dengan beragam latar belakang melalui satu kecintaan terhadap otomotif.

“Ini event dua tahunan dan banyak ditunggu masyarakat baik Jogja, nasional dan luar negeri. Terbukti komunitas VW ini termasuk paling loyal kecintaannya, tercatat ada 400 lebih pecinta VW yang hadir, ada beberapa mobil didatangkan dari negara asalnya. Dampaknya sangat besar terhadap wisata. Hotel sekita lokasi menjadi penuh dan tentu mereka juga berkunjung di beberapa tempat wisata di Jogja,” ujar Singgih, Sabtu.

Dalam JVWF yang merupakan agenda dua tahunan ini, banyak cerita unik dari para penggemar VW yang jika dipertimbangkan secara ekonomi sudah di luar batas kewajaran. Mereka tak segan merogoh kocek ratusan juta hingga mencari suku cadang dari berbagai negara lantaran saking langkanya.

Salah satunya versi VW Karmann Ghia buatan Jerman yang diproduksi medio 1955 hingga 1974. Mobil ini merupakan kakak kandung dari VW Beetle atau dikenal dengan VW Kodok. Jika VW Kodok mengecambah di Indonesia, namun Karmann Ghia sangat langka orang memiliki. Karena ketika itu Indonesia tidak menjadi target utama pasar Karmann Ghia bagi Jerman, sehingga tak dijual secara massal.

Karena kelangkaan itulah, mobil ini hanya bisa dimiliki orang tertentu, salah satunya Ketua DPR RI Puan Maharani. Orang lain yang beruntung memiliki jenis mobil ini adalah Thole, pemuda asal Bekasi Jawa Barat yang membawa Karmann Ghia tipe 53 keluaran 1961 ke JVWF 2019.

Selain kegilaan menghamburkan duit demi membangun mobil kesayangan, JVWF 2019 juga menampilkan banyak cerita kreatif karya anak bangsa. Seperti Wahyu Pamungkas asal Semarang, yang berhasil membuat replika Porsche 64 Berlin Rome yang populasinya di dunia hanya ada tiga unit. Saat ini, jumlah itu hanya tersisa satu unit milik kolektor di Austria.

Replika itu dibuat dengan dasar VW Kodok 1961 dengan mengambil sasisnya, selebihnya bodi dan lain-lain dibuat dengan tangan berbahan aluminium 2 milimeter.

Ia membuat mobil itu karena pesanan kliennya dari Jerman dengan waktu pembuatan sekitar 1,5 tahun dan dijual kisaran miliaran meski ia enggan menyampaikan detailnya. Selama proses pembuatan itu menghabiskan uang sekitar Rp700 juta.

Alat yang digunakan adalah english wheel untuk membuat lekukan bodi. Alat tersebut dibuatnya sendiri. Yudi, sapaan akrab sekaligus mencatatkan diri dalam sejarah pertama kali membuat mobil dari aluminium di Indonesia dan waktu paling cepat membuat mobil hand made Porsche di dunia.

“Karena jumlahnya minim jadi tidak ada blue print sama sekali, kami mengambil referensi dari museum di Jerman, ini hasil dimensinya sama, semua dibikin dengan tangan. Paling susah membuat lekukan bodi yang sangat ekstrim,” ujarnya.