Kondisi Tak Terurus, TIC di Patuk Harus Ditata Ulang

Kondisi Pusat Informasi Pariwisata atau Tourist Information Centre (TIC) di Jogja-Wonosari, tepatnya di bekas Kantor Kecamatan Patuk, yang tak terurus seperti terlihat, Rabu (20/11 - 2019).Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
21 November 2019 22:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul memiliki Pusat Informasi Pariwisata atau Tourist Information Centre (TIC) di Jogja-Wonosari, tepatnya di bekas Kantor Kecamatan Patuk. Namun, belakanganan bangunan yang diresmikan pada 2017 kurang optimal dalam penggunaannya.

Berdasar pantauan Harian Jogja, Rabu (20/11/2019), bangunan yang terlihat megah itu tak dijaga petugas. Bangunannya pun tampak tak terawat, rumput-rumput tumbuh liar di halaman gedung. Tak ada papan penunjuk jalan masuk yang terpampang.

Dedaunan kering pun dibiarkan mengotori halaman. Sejumlah lapak bagi pedagang pun terlihat tak terawat. Bahkan sebuah sepeda motor terlihat terparkir di tengah pendopo TIC.

Sekretaris Dinpar Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono, saat dikonfirmasi tak menampik jika TIC belum difungsikan secara optimal. Dia mengakui pusat informasi wisata itu hanya dijaga di hari-hari tertentu. "Secara definitif belum ada yang jaga (TIC), tapi kalau malam ada petugas keamanan yang berjaga. Biasanya kami menempatkan petugas jaga saat libur akhir pekan [Sabtu, Minggu] dan saat liburan," kata Hary, Kamis (21/11/2019). Hary mengaku berterima kasih dengan adanya masukan terkait dengan kurang terawatnya TIC.

Dinpar Gunungkidul, menurut Hary, segera mengatur jadwal penjagaan di TIC, sehingga saat ada wisatawan yang datang bisa dilayani dengan baik. Selama ini Dinpar menempatkan personel jika ada konfirmasi dari wisatawan ataupun pegiat pariwisata yang ingin berkunjung menanyakan informasi maupun wisatawan yang ingin memanfaatkan fasilitas yang ada di kompleks TIC.

Untuk memaksimalkan fungsi TIC, setiap tahun Dinpar mengalokasikan anggaran untuk pembenahan fasilitas. Namun upaya itu terkendala lokasi TIC yang berada tepat di pinggir jalan nasional dengan arus lalu lintas yang sangat ramai. Dinpar, menurut Hary, tengah mengkaji lahan yang tersisa untuk pengembangan dan optimalisasi TIC. "Saat ini Dinas Lingkungan Hidup tengah menyusun eetail engineering design [DED] ," kata dia.

Anggota Komisi B DPRD Gunungkidul, Eko Rustanto, menyatakan konsep bangunan TIC sejak awal kurang pas. Salah satunya tentang pemanfaatan lokasi yang sulit diakses oleh kendaraan, terutama kendaraan besar seperti bus pariwisata. "Wisatawan yang hendak mencari informasi menjadi malas karena akses masuk susah, terlebih wisatawan yang datang menggunakan bus pariwisata. Bus yang berhenti atau masuk justru membuat macet jalan nasional,” kata dia.

Dijelaskan Eko, untuk memaksimalkan fungsi TIC bangunan perlu dibenahi dan ditata ulang, mulai dari jalan masuk diperlebar, dibuat akses melingkar, pembangunan tempat istirahat, kuliner yang lebih baik lagi hingga fasilitas teknologi informasi untuk membantu wisatawan mengakses informasi pariwisata.

"TIC di Patuk harus diubah dan ditata kembali agar tempat itu betul-betul bisa digunakan sebagai pusat informasi, bisa untuk kuliner, istirahat, dan lainnya," ujarnya.