Penduduk Miskin di Temon Paling Rendah Se-Kulonprogo, Dampak Bandara YIA?

Bupati Kulonprogo Sutedjo memberikan penghargaan kepada desa dan kecamatan yang berhasil menurunkan angka kemiskinan pada TKPK Award, Senin (25/11/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
26 November 2019 01:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Kecamatan Temon menjadi wilayah dengan persentase penduduk miskin paling rendah sekaligus memiliki laju penurunan penduduk paling tinggi di Kulonprogo.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pembangunan dan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kulonprogo, Agus Langgeng Basuki dalam Anugerah Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK Award) di Aula Adikarto, Gedung Kaca, kompleks Pemkab Kulonprogo pada Senin (25/11/2019).

Dalam kesempatan ini, dirinya merilis lima desa dengan tingkat penduduk miskin paling rendah serta paling tinggi di Bumi Menoreh.

Adapun kelima desa dengan tingkat penduduk miskin paling rendah yaitu Desa Temon Kulon (0,83%), Desa Glagah (1,15%), Desa Jangkaran (1,47%), Desa Janten (1,98%), serta Desa Temon Wetan (3,21%). Sementara itu lima desa dengan tingkat penduduk miskin paling tinggi antara lain Desa Kalirejo (37,81%), Desa Purwoharjo (31,73%), Desa Banjarsari (30,72%), Desa Sidorejo (30,49%), serta Desa Kebonharjo (30,1%).

Menurut Langgeng hal ini menarik karena kelima desa dengan tingkat penduduk miskin paling rendah berada di Kecamatan Temon. "Prediksi kami karena pembangunan bandara, tapi kami khawatir status itu tidak langgeng. Entah juga jika angka itu karena program kami yang intervensi dengan bantuan pangan nontunai," katanya.

Terkait dengan desa dengan tingkat penduduk miskin paling tinggi, Langgeng mengimbau pimpinan wilayah terkait untuk bisa mengatasi hal ini. "Untuk Pak Camat Samigaluh, mohon ini menjadi perhatian karena tiga desanya masuk dalam lima desa dengan tingkat penduduk miskin paling tinggi," ujar dia. Ketiga desa itu ialah Desa Purwoharjo, Banjarsari, dan Kebonharjo.

Pihaknya merasa perlu menegaskan komitmen penanggulangan kemiskinan ini sebab ada program strategis nasional yang dijalankan di Kulonprogo, yaitu Yogyakarta International Airport di Kecamatan Temon serta Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur yang bersinggungan dengan Kecamatan Samigaluh.

"Perlu koordinasi antara kita [kabupaten] dengan kecamatan dan desa untuk bisa sama-sama menurunkan angka kemiskinan," kata Langgeng.

Dalam agenda tersebut, Bupati Kulonprogo, Sutedjo memberikan penghargaan berupa plakat kepada Kecamatan Temon sebagai kecamatan dengan tingkat penduduk miskin terendah (6,38%) dan memiliki laju penurunan penduduk miskin tertinggi (6,37%).

Sementara itu, di tingkat desa, selain dirinya memberikan penghargaan pada Desa Temon Kulon sebagai desa dengan tingkat penduduk miskin paling rendah, ia juga menyerahkan penghargaan kepada Desa Janten sebagai desa yang memiliki laju penurunan penduduk miskin tertinggi (16,37%).

Sutedjo menyebutkan meskipun ada penurunan angka kemiskinan setahun terakhir, namun kemiskinan di Kabupaten Kulonprogo masih membutuhkan perhatian yang serius dari semua pihak. Badan Pusat Statistik Kulonprogo mencatat pada tahun 2017 sebanyak 20,03% warga Kulonprogo miskin, kemudian pada 2018 angka ini berkurang menjadi 18,3%.

"Target penurunan kemiskinan Kulonprogo dari 18.3% menjadi 8.85% di tahun 2022 menurut RPJMD Provinsi DIY," ujarnya.

Dalam koordinasi dengan 87 desa dan 12 kecamatan di Kulonprogo, Sutedjo mengingatkan mereka kembali untuk bahu-membahu mencapai target itu. "Setiap desa dan kecamatan dalam tiga tahun harus turun berapa persen itu ada datanya. Kami berikan keleluasaan bagi mereka untuk melakukan apa supaya bisa menurunkan angka kemiskinan itu," kata dia.