DIY Gelontorkan Rp500 Miliar untuk Wisata Kesehatan

Ilustrasi rumah sakit - Reuters
27 November 2019 15:57 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersinergi membuat pola perjalanan wisata kesehatan di Indonesia.

Kebijakan itu, sebagai langkah untuk mewujudkan Indonesia sebagai destinasi Pariwisata Kesehatan Dunia. Saat ini wisata kesehatan baru dikembangkan di Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar), Bali dan Jakarta.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Budi Wibowo mengungkapkan DIY memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan medical tourism wisata kesehatan. Pemerintah DIY akan menjadikan kawasan RS Wates menjadi kawasan medical tourism.

"Kami akan bangun penghubung berupa fly over dari jalan nasional ke rumah sakit itu. Kami kan sudah keluarkan dana Rp250 miliar untuk bangun itu dan ditambah DAK dan lain-lain jadi sekitar Rp500 miliar. Nah, sekarang sudah jadi sehingga harus diberdayakan," ungkap dia, Senin (25/11).

Menurutnya, soal sumber daya manusia (SDM) hal itu bisa dicari solusinya dengan membuat kerja sama operasional dengan rumah sakit besar lainnya. "Jadikan itu medical tourism. Maka di situ ada apartemennya. Kalau saya lihat, kenapa enggak hotel bintang lima sekalian? Potensi besar. Kalau Penang [Malaysia] saja bisa, kita juga harus bisa," katanya.

Setiap tahun setidaknya 600.000 pasien Indonesia memilih untuk berobat ke luar negeri dan mengeluarkan hingga US$11,5 miliar atau Rp154 triliun per tahun untuk menjalani pengobatan tersebut. Jumlah ini tentunya menjadi potensi bagi DIY untuk mengembangkan wisata kesehatan.

Selain wisata kesehatan, DIY memiliki potensi untuk wisata kebugaran (wellness tourism). Kedua hal ini bisa menjadi ceruk pasar yang bisa digarap untuk mengembangkan wisata DIY.

Biasanya, medical tourism dilakukan seseorang baik untuk general check up, treatment, maupun rehabilitasi. Pasien memiliki kecenderungan mencari pelayanaan yang aman, nyaman, dan berkualitas. Pasien dari negara berkembang pergi ke luar negeri yang lebih maju untuk mencari pelayanan medis dengan kualiatas pelayanan yang lebih berteknologi tinggi. Sebaliknya, pasien dari negara maju menuju ke negera berkembang untuk mencari pelayanan yang lebih terjangkau.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia DIY, Udhi Sudiyanto, mengatakan wellness tourism dan medical tourism memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di DIY. DIY sebagai salah satu daerah agraris yang memiliki banyak kekayaan alam memiliki posisi yang menguntungkan untuk pariwisata.

"Di mana di DIY juga banyak tumbuh aneka macam tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai jamu. Dan pemanfaatan ini sudah dilakukan sejak lama dan turun temurun. Dengan demikian sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai wellness tourism [wisata kebugaran]," kata dia, Selasa (26/11).

Udhi mengatakan masyarakat DIY juga sudah familier dengan semedi atau bertapa atau meditasi. Menurutnya, hal ini membuka peluang tersendiri untuk konsep wellness tourism. Misalnya saja dengan menyajikan teknik bertapa atau meditasi yang benar dalam bentuk kursus pendek. "Karena saya pikir ini bisa juga untuk healing. Hanya saja memang perlu dikemas secara bagus dan dibuat cerita yang bagus agar mereka tertarik dengan wellness yang kami tawarkan," ujar.

Sementara, untuk health atau medical tourism atau wisata kesehatan memerlukan persiapan yang lebih baik. "Penting diingat, keunggulan dari health tourism kita itu di mananya? Itu yang perlu kita tonjolkan agar paling tidak orang Indonesia untuk berobat tidak perlu ke luar negeri," ujar dia.

Semua itu, kata Udhi, harus didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang berstandar ASEAN atau paling tidak berstandar nasional termasuk di dalamnya adalah pelayanan pengobatannya. Pasalnya, ketika berbicara pariwisata tidak akan pernah lepas dari konsep hospitality.

"Kedua ceruk itu selama ini belum maksimal dikelola karena untuk bisa dikerjakan dengan baik. Perlu branding dari sebuah produk contoh jamu dan lainnya. Karena wellness tourism itu bagus maka kita bisa kita garap baik itu untuk domestik maupun asing. Nah, yang penting bagaimana storytelling yang standar sehingga kita bisa memperi penjelasan ke wisatawan dengan baik dan benar," ujar dia.

Destinasi Joglosemar

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani menjelaskan pengembangan Wisata Kesehatan di Indonesia, sebagai upaya bersama untuk mendukung destinasi wisata prioritas serta mengembangkan Wisata Kesehatan yang bermutu.

“Penetapan Wisata Kebugaran dan Jamu menjadi prioritas merupakan keputusan yang tepat, selain mempunyai nilai jual yang tinggi, Indonesia menawarkan tindakan promotif dan preventif lebih utama dalam bidang kesehatan,” kata Ni Wayan Giri Adnyani, Selasa (19/11).

Dia menuturkan peluncuran sekaligus adanya buku perjalanan wisata kebugaran ini dapat memberikan informasi tentang pilihan paket wisata bagi para wisatawan yang memiliki karakter dan preferensi berbeda yaitu motivasi kesehatan dan kebugaran melalui pengalaman budaya yang unik dan dikemas secara inovatif.

Menurutnya, pola perjalanan ini dapat mengajak destinasi wisata di kota lainnya untuk mengembangkan wisata kebugaran di mana kali ini baru dikembangkan di Joglosemar (Jogjakarta, Solo, dan Semarang), Bali dan Jakarta.

“Diharapkan skenario perjalanan ini, juga dapat menjadi dasar bagi sektor bisnis untuk mengembangkan paket-paket wisata kesehatan di masa mendatang. Dan semoga kedua buku ini dapat menjadi landasan dalam pengembangan wisata kebugaran dan jamu dimasa yang akan datang,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kemenkes, Oscar Promadi, menjelaskan penyusunan pola jalur wisata ini untuk mendorong pelayanan kesehatan tradisional untuk memiliki unggulan yang meliputi spa, herbal, acupressure, dan akupuntur dalam penyelenggaraan wisata kesehatan.

Serta menetapkan rumah sakit (medical tourism) dan fasilitas kesehatan tradisional (wellness tourism) yang memiliki pelayanan unggulan dalam penyelenggaraan wisata kesehatan.

“Beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kebugaran kelas dunia. Sebagai besar dari destinasi wisata Indonesia sudah merespon kebutuhan atas kebugaran berupa spa, makanan sehat dan pengobatan holistik,” kata Oscar.

Untuk mengembangkan wisata kesehatan atau health tourism, ada empat strategi yang dapat dijalankan. Pertama, wisata kesehatan berbasis kebugaran atau wellness tourism yang terdiri dari layanan nonmedical seperti pengobatan tradisional, spa, jamu, dan pengobatan holistic dan wellness yang bersifat medical seperti pelayanan anti aging dan estetik.

Wellness tourism ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki banyak ahli di bidang kecantikan dan pengobatan tradisional. Bali bisa menjadi salah satu pilihan destinasi yang dapat dikembangkan, apalagi Pulau Dewata tersebut memiliki keindahan alam yang menarik bagi wisatawan.

Kedua, scientific tourism yaitu dengan mengembangkan berbagai seminar atau workshop kesehatan dengan mengundang dokter ahli dari berbagai dunia. Kegiatan ini kemudian dikemas dalam bentuk paket wisata. Strategi ketiga, sport health tourism yang mengaitkan antara kesehatan dan kebugaran dengan olahraga. Strategi keempat yaitu medical tourism atau pariwisata medis yang saat ini banyak dikembangkan oleh negara tetangga seperti Malaysia, dan Singapura.

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia Daeng M. Faqih mengatakan strategi pengembangan medical tourism memang terbilang lebih rumit. Apalagi Indonesia masih belum dilirik sebagai salah satu destinasi wisata medis di dunia.

Tak heran bila saat ini pemerintah lebih fokus mengembangkan roadmap health tourism untuk tiga strategi di awal yaitu wellness tourism, sport health tourism, dan scientific tourism.

Medical tourism ini rupanya memang lebih rumit karena berkaitan dengan pelayanan kesehatan unggulan dan competitiveness. Pelayanan unggulan ini terkait juga dengan adanya gap teknologi kesehatan Indonesia dengan negara lain.

“Untuk dapat menggarap medical tourism ini, paling tidak, kompetitif pelayanan dan peralatan kesehatan kita harus sama atau bahkan lebih dari negara lain. Ini yang sebetulnya menjadi salah satu permasalahan,” katanya.

Faqih mengatakan konsep murni dari medical tourism adalah mengundang pasien dari luar negeri untuk berobat sekaligus berwisata di Indonesia. Namun, saat ini strategi yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mencegah pasien Indonesia berobat ke luar negeri.

“Ini yang harus dicegah dengan cara memberikan pelayanan kesehatan yang kompetitif, dan meningkatkan branding dokter maupun rumah sakit sehingga pasien percaya dengan kualitas dokter dan tenaga kesehetan di dalam negeri,” katanya.

Dari sisi kualitas dan kompetensi dokter di Indonesia, baik umum maupun spesialis boleh dikatakan tidak jauh berbeda dibandingkan dengan dokter-dokter yang ada di Singapura maupun Malaysia.

Apalagi untuk mendapatkan spesialisasi, sama-sama menjalani ujian Asia Pacific. Bahkan tidak sedikit pula dokter dari luar negeri yang menempuh pendidikan di Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki setidaknya 38.000 dokter spesialis. Beberapa yang diunggulkan antara lain bedah syaraf, cangkok ginjal, bedah jantung, dan bayi tabung. Bahkan, tidak sedikit dokter dari Malaysia dan Singapura yang belajar ke Indonesia.

“Kita itu tertinggal bukan karena masalah dokter karena dokter ahli kita banyak. Masalah kita itu ada pada peralatan dan teknologi yang terbilang cukup mahal karena pajak impor alat kesehatan itu masuk ke dalam barang mewah berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang menerapkan pajak 0% untuk itu,” ujarnya.

Tingginya pajak tersebut akhirnya membuat Indonesia kesulitan memasok alat kesehatan yang berkualitas, jika pun ada, akan membebani biaya pengobatan yang menjadi lebih mahal. Tak heran bila banyak pasien yang akhirnya memilih untuk berobat ke negara tetangga.

Misalnya saja untuk pengobatan bedah jantung di Indonesia harganya setara dengan pengobatan jantung ke Malaysia lengkap dengan biaya sambil berwisata bersama keluarg sehingga dinilai lebih menarik.

Selain itu, dari sisi hospitality atau keramahtamahan petugas kesehatan di negara tetanga memang diakui lebih baik. Hal ini tidak lepas dari jumlah pasien yang dilayani oleh setiap dokter atau tenaga kesehatan.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, rasio dokter per 100.000 penduduk pada 2017 hanya sekitar 45 artinya 1 dokter harus melayani setidaknya 2.200 penduduk. Adapun untuk rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk adalah 13,6. Artinya 1 dokter spesialis harus melayani 7.352 penduduk. Begitu pula dengan perawat yang rasionya 1 banding 588 pasien.

“Kondisi ini dampaknya pada system pelayanan karena setiap dokter dan perawat itu harus melayani banyak pasien. Berbeda dengan di Malaysia yang mereka serius menerapkan wiskes sehingga satu perawat itu memang benar-benar fokus pada pasiennya.”

Hal lain yang membuat Indonesia kalah bersaing adalah dari sisi branding. Malaysia dan Singapura memiliki badan khusus untuk membranding wisata kesehatannya, yaitu Malaysian Health Tourism Council dan Singapore Tourism Board.

Faqih mengatakan bahwa Indonesia pun seharusnya memiliki komite khusus untuk wisata kesehatan, sebab tidak mungkin seorang dokter atau rumah sakit memasarkan dirinya sendiri karena tidak diperbolehkan secara etika.

“Kita dari IDI sudah membentuk yang namanya committee untuk medical tourism. Kita akan branding kawan-kawan dokter ahli yang memiliki keunggulan. Tapi ini juga harus dibackup dengan regulasi dan kebijakan lintas sektoral dari pemerintah, terutama mengenai pajak barang mewah untuk alkes agar kita juga bisa lebih kompetitif,” katanya. (JIBI/Bisnis Indonesia)