Dongzhi Simbol untuk Menjaga Keseimbangan Alam

Wisatawan menikmati keindahan Songgo Langit, Mangunan, Bantul, Kamis (6/6/2019).- Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
28 November 2019 06:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Festival Dongzhi sebagai salah satu perayaan penting masyarakat Tionghoa, pada musim dingin atau menjelang akhir tahun.

Ketua I Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto mengatakan peringatan tersebut biasanya diperingati pada 22 Desember penanggalan Masehi. Perayaan Dongzhi menjadi perayaan ke-22 dari 24 hari raya kalender Imlek. “Pada dasarnya ya mempercayai alam itu dirayakan sebagai perantara menyembah Tuhan. Pelajarannya ya memperhatikan alam,” kata Jimmy, Rabu (27/11).

Di Indonesia atau khususnya Jogja, kata dia, perayaan ini jarang digelar. Mengingat sangat banyak perayaan budaya atau hari besar Tionghoa.

Dilansir dari Infotionghoa.com, awal mula perayaan ini berdasar pada filosofi Yin Yang, keseimbangan dan harmoni dalam alam semesta. Setelah hari perayaan, maka siang hari berangsur-angsur menjadi lebih panjang sehingga energi positif juga mulai mengalir masuk. Ketika siklus Dongzhi dimulai, pancaran sinar matahari akan terasa lebih lemah dan siang hari berlangsung lebih singkat.

Datangnya siklus Dongzhi ini oleh masyarakat tiongkok dianggap sebagai hari terakhir masa panen dan dirayakan dengan reuni keluarga pada malam hari yang lebih panjang dari biasanya sambil menyantap tangyuan berwarna merah muda dan putih berkuah manis sebagai lambang keutuhan keluarga dan datangnya rezeki bagi mereka.

Secara turun-temurun, festival ini menjadi saat berkumpul bagi seluruh anggota keluarga dengan satu kegiatan utama yang dilakukan terutama bagi keluarga-keluarga di Tiongkok selatan dan perantauan, yaitu membuat dan menikmati Tangyuan, orang Indonesia menyebutnya wedang ronde yaitu hidangan berbentuk bola-bola dari beras ketan yang melambangkan persatuan.