Empat Keluarga Asal Kulonprogo Berangkat Transmigrasi Mamuju Tengah

Salah satu keluarga calon transmigran yang ikut dalam program transmigrasi ke Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, dalam pelepasan catran di Kantor Disnakertrans Kulonprogo, Rabu (27/11/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
28 November 2019 14:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Sebanyak empat kepala keluarga yang berisi 17 jiwa asal Kulonprogo akan menjalani hidup baru di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Saloandeang, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Empat KK itu terdiri dari keluarga Lucky Juangga Parmodito, Desa Brosot, Kecamatan Galur; Darwanto, Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan; Syarifudin Hidayatullah Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih dan Tukimin, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap.

Sebelum berangkat ke lokasi transmigrasi pada Sabtu (30/11/2019) mendatang, mereka terlebih dahulu menjalani rangkaian pemeriksaan meliputi kesehatan dan kelengkapan barang bawaan di Kantor Transito Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Kantor Wilayah Yogyakarta.

"Hari ini para calon transmigran [catran] berangkat secara bersama-sama dari Disnakertrans Kulonprogo menuju Transito Yogyakarta untuk menjalani pemeriksaan, dan direncanakan pada Sabtu [30/11/2019] terbang dengan pesawat ke lokasi di UPT di Mamuju Tengah," ujar Kepala Disnakertrans Kulonprogo, Eko Wisnu Wardhana, usai pelepasan catran di halaman Kantor Disnakertrans Kulonprogo, Kecamatan Wates, Rabu (27/11/2019) siang.

Eko menjelaskan seluruh catran sudah diberi bekal ketrampilan melalui pelatihan baik diselenggarakan oleh pusat di Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Sleman, Transito Disnakertrans DIY dan Balai Latihan Kerja (BLK) Wates. Diharapkan para catrans mampu mengolah lahan pertanian di lokasi tujuan guna meningkatkan kesejahteraan.

Kepada catrans Eko mengimbau agar selalu bergotong royong dalam mengolah lahan supaya beban kerja lebih ringan. Bagi catrans yang punya anak pelajar, diminta untuk fokus terhadap pendidikan, dan segera mendaftarkan putra putrinya ke sekolah yang ada di kawasan UPT. "Dan kami mohon untuk ikuti aturan budaya masyarakat atau adat istiadat yang ada di tempat baru," ujarnya.

Kepala Bidang Transmigrasi, Disnakertrans Kulonprogo, Heri Widada, di lokasi transmigrasi, para catrans bakal memperoleh rumah permanen, lahan sekitar 2 hektare, jatah hidup (jadup) selama satu tahun, dan modal usaha sebesar Rp5 juga yang diberikan Pemkab Kulonprogo.

Dia optimis, jika niat catran sudah bulat disertai ikhtiar, masa depan di lokasi transmigrasi akan lebih baik dibanding di Kulonprogo. "Hari ini empat KK berangkat, yang tahun lalu tiga KK sudah di lokasi yang sama dan kerasan dengan kondisi lokasi yang ada, tanahnya subur, untuk perkebunan sawit,” terang Heri.

Diskanertrans Kulonprogo sebelumnya memberangkatkan tiga KK tujuh jiwa ke UPT Raimuna, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Sementara kuota catran untuk ditempatkan di Desa Sigulai, Kecamatan Simeulue Barat, Kabupaten Simeule, NAD dan Kecamatan Watutinawu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, yang masing-masing disediakan sebanyak empat KK masih kosong.

Syarifudin Hidayatullah salah satu catran asal Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih mengaku ikut program transmigrasi karena ingin hidup yang lebih baik. Dia ingin istri dan anak semata wayangnya bisa punya rumah sendiri. Selama ini keluarga Syarifuddin hidup menumpang di rumah mertua.

"Selama ini kami serumah dengan mertua, jadi dengan ikut transmigrasi ingin punya rumah sendiri, pingin punya tanah sendiri, jadi biar kehidupannya bisa berubah," ujarnya.

Saban hari Syarifuddin bekerja serabutan. Lebih sering menjadi kuli bangunan. Di tempat yang baru, Syarifuddin berharap hidupnya bisa berubah. Ke depan ia ingin menggarap lahan untuk ditanami pohon sawit. "Menurut informasi di sana ada kebun sawit, jadi rencananya ya ikut tanam sawit," ucapnya.