Keluarga adalah Obat untuk ODHA

02 Desember 2019 23:37 WIB Riri Rahayuningsih Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penolakan keluarga adalah jalan buntu penanganan pasien HIV/AIDS. Peran keluarga sangat penting dan bisa menjadi “obat” bagi para pasien. Membuka pintu penerimaan dalam lingkup keluarga berarti memulai langkah pertama memutus stigma dan diskriminasi terhadap pasien HIV/AIDIS. Hal itu yang menjadi pegangan Komunitas Rumah Kebaya.

 Rumah kecil di Jalan Gowongan Lor No.148, Jetis, Jogja berpapan nama di atas pintu masuk: Yayasan Kebaya. Tempat ini memang menjadi sekretariat Yayasan Keluarga Besar Waria Yogyakarta atau yang disingkat Kebaya. Namun di sisi lain, rumah ini juga disebut Rumah Singgah Kebaya, tempat delapan ODHA tinggal dan membangun semangat.

Rumah Singgah Kebaya bisa berdiri dan menjadi pelindung ODHA berkat peran Vinolia Wakidjo atau Mami Vin. Ia mendirikan Rumah Singgah Kebaya pada 18 Desember 2006. Tak hanya bergerak membentuk keluarga bagi para waria seperti dirinya, Mami Vin berkiprah luas hingga menyentuh gerakan kampanye memutus stigma dan diskriminasi pada ODHA.

“Karena HIV itu kan tidak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja,” kata Mami Vin, kepada Harian Jogja, Selasa (26/11/2019) sore.

Mami Vin kemudian bercerita, di rumah kecil itu ia menampung delapan ODHA. Mereka semua tinggal bersamanya dan telah menjadi seperti keluarga. “Enam orang [ODHA] datang sendiri. Dua lainnya diantarakan keluarga mereka,” kata Mami Vin.

Omong-omong soal keluarga yang meninggalkan pasien HIV/AIDS kepada orang lain untuk dirawat, Mami Vin mengatakan umumnya hal itu dilakukan karena keluarga miskin informasi. Soal ini pula yang menjadi masalah utama dalam berkembangnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di seluruh dunia. 

“Kemiskinan akan infomasi itu pula yang membuat keluarga menjadi takut terhadap ODHA sehingga enggan merawat mereka,” katanya.

Dari situ, Mami Vin kemudian tergerak dan mengupayakan langkah edukasi kepada para keluarga ODHA. Ia bahkan melakukan pendekatan kepada keluarga ODHA yang tinggal bersamanya. Di Rumah Singgah Kebaya Mami Vin menjadi sosok yang dituakan dan dianggap sebagai “mamak” sehingga ia bisa menyentuh keluarga para ODHA dan memberi pemahaman serta pengertian tentang HIV/AIDS.

Ia memang tidak mengedukasi secara tertulis, tetapi ia bersama Rumah Singgah Kebaya berusaha  menunjukkan kepada keluara ODHA tentang bagaimana mereka merawat dan mendampingi ODHA.

“Kami meyakinkan kepada keluarga bahwa merawat ODHA tidak ada masalah, karena sebetulnya salah satu obat bagi orang yang tertular HIV itu adalah keluarga. Jadi ada satu paket obat sehingga ODHA bisa bertahan, yaitu minum obat, penerimaan diri dan peneriman keluarga, serta tidak adanya diskriminasi,” ujarnya. 

Upaya Mami Vin tentu tak berjalan mulus. Penolakan datang dari keluarga ODHA. Ia tak putus asa dan tak menyerah.

“Untuk keluarga yang menolak, kami perlihatkan bagaimana kami bisa menerima ODHA. Kami bisa hidup bersama, makan bersama, duduk bersama, serta belajar saling melengkapi,” ujarnya sabar.

Selain bertemu langsung dengan keluarga para ODHA dan memberi pengertian, ia juga rajin menelepon. Cara itu ia anggap efektif karena keluarga harus didekati secara intens. Ia tidak pernah lelah menguatkan dan meyakinkan mereka untuk menerima dan mendampingi ODHA yang menjadi bagian dari keluarga mereka.

Saat berkesempatan bertemu langsung dengan para keluarga ODHA, Mami Vin juga memberi rujukan melalui leaflet Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE). Hal itu dilakukannya karena ia tahu betul, keluarga ODHA harus memperoleh informasi yang baik terkait dengan HIV/AIDS.

Usaha Mami Vin bersama Rumah Singgah Kebaya pun tidak sia-sia. “[ODHA] yang dua tahun di sini sudah bisa diterima keluarga. Cuma belum pulang karena bukan orang Jogja. Jadi kalau pulang kasihan berobatnya jauh,” kata Mami Vin.

Persoalan minimnya informasi tentang HIV/AIDS memang menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hanya 1% masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang HIV secara keseluruhan mulai dari pengetahuan umum, cara penularan dan pencegahannya, serta cara pemeriksaannya.

Sekitar 31,8% mengetahui sebagian; sebanyak 65,2% hanya mendapatkan informasi yang tidak lengkap tentang HIV; lalu 2% tidak memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Kemenkes seperti dilansir Antara menyebut ketidaktahuan tentang HIV/AIDS, terlebih pada ketidakpahaman cara penularannya, menciptakan stigma negatif terhadap penyakit tersebut yang kemudian menghasilkan diskriminasi terhadap ODHA.