Sonobudoyo Pamerkan Koleksi Etnoastronomi

KPH Notonegoro (kanan) dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho (tengah) saat melihat salah satu koleksi yang dipamerkan di Ruang Pameran Temporer, Museum Sonobudoyo, Jogja, Selasa (10/12/2019). - Harian Jogja/Sunartono
10 Desember 2019 18:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pameran bertajuk Angkasa Ruang dan Waktu, Membaca Langit Menebak Pertanda digelar di Ruang Pameran Temporer, Museum Sonobudoyo, Kota Jogja, dibuka Selasa (10/12/2019). Pameran yang akan berlangsung hingga 10 Februari 2020 itu bercerita tentang etnoastronomi masyarakat Nusantara.

Kepala Museum Negeri Sonobudoyo Setyawan Sahli menjelaskan pameran ini merupakan kegiatan rutin di Museum Sonobudoyo. Tahun ini, pameran lebih berkisah tentang etnoastronomi dalam pandangan budaya yang praktiknya telah dilakukan oleh manusia pada masa lalu. Bahkan sebelum ilmu astronomi barat modern berkembang yang ditandai oleh penemuan teropong bintang oleh Galileo Galilei pada 1608. "Kami bertanggung jawab untuk mengedukasi maayarakat, memperlihatkan koleksi kepada masyarakat, sehingga kami kembali menggelar pameran temporer ini, tujuan untuk menyajikan koleksi kepada masyarakat," katanya Selasa.

Pameran itu, kata dia, menyajikan antara lain jejak pengamatan nusantara yang ditandai dengan lukisan gambar cadas. Manusia prasejarah menggoreskan beragam bentuk sebagai wujud kehidupan mereka di dinding gua. Pada peradaban yang lebih maju, masyarakat di Pulau Jawa mengembangkan pengetahuan agraris untuk mengetahui masa tanam dan panen melalui tanda-tanda alam.

Selain itu ada penanggalan, di mana manusia dahulu mengamati gerak matahari, gerak bulan hingga kemudian muncul siklus pertanggalan yang berbeda-beda. Begitu juga hal berkaitan dengan navigasi masa lampau turut dipamerkan dalam pameran itu seperti miniatur perahu mayang yang memunculkan manusia mampu membaca arah mata angin.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho mengatakan Sonobudoyo memiliki koleksi sebanyak 65.000 tetapi hanya 1% yang bisa disajikan ke masyarakat karena keterbatasan tempat. Sehingga pameran kali ini menjadi salah satu upaya agar benda di museum bisa diketahui masyarakat sekaligus menjadi saran pendidikan dan hiburan.

“Seperti yang sering disampaikan Ngarsa Dalem [Gubernur DIY Sri Sultan HB X], yang namanya museum jangan diartikan hanya sebagai tempat menyimpan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan hiburan. Dengan acara seperti ini menjadi jawaban benda museum layak diketahui masyarakat luas,” ucapnya.

Dia mengatakan dari sisi display pameran saat ini sudah sangat berbeda dengan terdahulu, di mana saat ini mengarah pada konsep era milenial sehingga sangat cocok dengan anak muda. “Termasuk bunyi gamelan misalnya sudah kami buat dengan digital, jadi ketika ada yang lewat kemudian terdengar bunyi asli gamelan,” katanya.

Perwakilan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Notonegoro yang hadir membuka pameran tersebut menilai tema yang diangkat sangat sesuai dengan anak milenial saat ini. Ia meyakini saat ini upaya museum untuk mendekatkan diri dengan kalangan milenial perlahan bisa diterima.

“Ini momentum yang sesuai, kalau diperhatikan gerakan milenial yang atensi terhadap budaya mulai meningkat, saat ini menjamur komunitas pecinta museum atau warisan budaya lain. Artinya, pasar sudah ada tinggal bagaimana mengemas sajian [museum] supaya bisa dinikmati mereka,” ujarnya.