English Cafe: Pengajar Disebut Chef, Modul Dibuat seperti Buku Resep

Wakil Manajer dan Pengajar English Cafe Bantul Prima Kharismanita (tengah) ketika tengah mengajar di Engslih Cafe Bantul yang bertempat di Kafe Milk & Classic, Jl Imogiri Barat, Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
13 Desember 2019 16:57 WIB Kusnul Isti Qomah Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Belajar Bahasa Inggris tak melulu di kelas, di kafe pun bisa. English Cafe menawarkan solusi bagi orang yang ingin lancar Bahasa Inggris dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Kusnul Isti Qomah.

Di salah satu sudut perempatan di ruas Jalan Timoho, Jogja terdapat sebuah bangunan yang digunakan untuk kafe. Alive Fusion Dining namanya.

Di lantai pertama, suasana khas jalanan di Eropa kental terlihat. Kotak telepon merah, khas Inggris, diletakkan di salah satu sudut kafe. Lantai dua konsepnya semi outdoor.

Di lantai dua ini tampak beberapa orang duduk berkelompok mengitari sebuah meja. Di sebelahnya terdapat dua orang duduk berhadapan. Di masing-masing kelompok ada seorang yang memakai apron seolah-olah juru masak. Setiap orang juga memegang buku berjudul Secret Recipe.

Mereka bicara dengan memakai Bahasa Inggris dengan lancar. Cas cis cus. Setelah diperhatikan dengan teliti, di apron tersebut terdapat tulisan English Cafe. Tulisan ini juga terdapat di running text di depan Alive Fusion Dining yang bertuliskan English Cafe is Here. Pengunjung kafe itu tak sekadar menghabiskan waktu menikmati kopi dan camilan di kafe itu. Mereka juga tengah belajar Bahasa Inggris. Suasananya sangat santai jauh dari kesan formal di ruang kelas.

Alive Fusion Dining memang menjadi salah satu kafe di mana kursus Bahasa Inggris dari English Cafe digelar. Kafe ini juga menjadi pusat English Cafe Indonesia. English Cafe merupakan Lembaga Kursus Bahasa Inggris di DIY dengan konsep kafe pertama di Indonesia.

Berdiri sejak 2012, hingga kini sudah memiliki 125 cabang yang tersebar di 50 kota di seluruh Indonesia, seperti DIY, Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Batam, Lampung, Malang, Solo, dan kota lainnya. Tidak hanya itu, English Cafe sudah memiliki sekitar 30.000 lebih anggota dengan 300-an karyawan.

CEO English Cafe Indonesia, Moh Zainollah, mengatakan English Cafe didirikan oleh tiga orang pada 1 Februari 2012 yakni Moh Hamli, Waskito, dan Uut. Setelah tiga bulan Waskito dan Uut mundur karena mendapatkan beasiswa ke luar negeri sehingga hanya ditangani oleh Hamli.

"Awalnya kami berpikir Bahasa Inggris itu bisa dipelajari enggak cuma di kelas doang. Enggak terkesan menakutkan dan membosankan sehingga Hamli mendirikan English Cafe," ujar dia kepada Harian Jogja di Alive Fusion Dining, Jogja, Sabtu (7/12/2019).

Saat itu, Hamli dan kawan-kawan melihat di DIY banyak kafe yang tumbuh. Lantaran saat itu belum memiliki modal, mereka mencari cara agar kurus Bahasa Inggris bisa dijalankan salah satunya dengan menggandeng kafe untuk sharing economy. Awalnya memang susah mencari kafe yang mau diajak bekerja sama sampai suatu ketika ada kafe yang baru buka dan butuh promosi yang mau bekerja sama yakni Merica Singkong Resto di Nologaten, Sleman. "Kalau sekarang sangat mudah mencari kafe yang mau kerja sama," ujar dia.

Konsep English Cafe pun dibuat sesantai mungkin dan dikemas seperti kafe kebanyakan. Pengajarnya pun memiliki sebutan sendiri yakni chef, sedangkan sampul modul pembelajaran dibuat seperti buku resep masakan.

Budaya Bahasa Inggris

Ia mengungkapkan penggerak English Cafe percaya Bahasa Inggris bukanlah ilmu tetapi budaya. Oleh karena itu dibutuhkan kebiasaan agar lancar berbahasa Inggris dan tidak terlalu grammatical. Ketika di bangku sekolah hanya fokus pada grammar, maka ketika lulus tidak bisa berbicara dnegan lancar meskipun bisa memahami. Hal inilah yang disebut berbahasa Inggris secara pasif.

"Kami hadirkan konsep pembelajaran baru. Fokus ke speaking dahulu. Level satu goal-nya dare to speak atau berani bicara dahulu, untuk bangun kepercayaan diri dan enggak minder buat ngomong,” katanya.

Setelah itu berlanjut ke level dua lebih ke speaking dan sudah punya basic Bahasa Inggris. Kemudian ke level tiga baru masuk ke grammarnya. “Kalau ngomong dah lancar lebih mudah pahami grammar. Lalu baru level empat Toefl Preparation," jelas dia.

Ia mengakui lingkungan masih belum terlalu mendukung bagi seseorang untuk berbicara dengan Bahasa Inggris. Ketika akan berbicara pakai Bahasa Inggris, seseorang sering dibilang sok-sokan ataupun diejek. Jika mental tidak kuat, maka akan malu.

Budi Hartono, Manajer English Cafe di Cabang Kongkalikong menyebutkan untuk kelas reguler akan dimulai ketika sudah memenuhi kuota 15 orang. Selain itu, ada pula kelas privat di mana satu siswa satu tutor.

Biaya yang ditawarkan per level pun sama untuk level satu, dua, dan tiga yakni Rp350.000 untuk reguler dan Rp650.000 untuk privat. Adapun biaya pendaftaran sebesar Rp100.000. Untuk Toefl Preparation biaya yang dikenakan Rp900.000 per orang.

"Bayarnya sekali saja. Kami memiliki fasilitas cukup bayar sekali, belajar sampai mati. Misalnya kelasnya sudah selesai dan ingin mengulang lagi, bisa ikut kelas lagi tanpa membayar lagi. Kami ada member yang dari 2014 ikut. Bukan karena belum bisa Bahasa Inggris, tetapi sudah nyaman dengan lingkungannya dan agar bahasanya terpakai terus," ujar dia.

Peminat kursus di English Cafe cukup banyak meskipun persaingan dengan lembaga kursus lainnya cukup ketat. Setiap bulan selalu ada member baru, bahkan bisa sampai 500 orang dari semua cabang. Di DIY ada 10 titik lokasi English Cafe. Salah satunya di Bantul yang bertempat di kafe Milk & Classic, Jl Imogiri Barat, Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Wakil Manajer dan Pengajar English Cafe Bantul Prima Kharismanita mengungkapkan proses belajar mengajar dibuat sesantai mungkin sehingga para peserta kursus merasa nyaman. Dengan merasa nyaman, materi pembelajaran akan lebih mudah masuk.

Misalnya saja anak-anak, saat sudah lelah di tengah-tengah sesi belajar mereka boleh bermain terlebih dahulu atau belajar sambil makan dan minum. Ia ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan apalagi anak-anak saat ini sekolah hingga sore hari.

"Inti untuk bisa berbicara Bahasa Inggris dengan lancar pertama harus menyukai terlebih dahulu. Kalau tidak suka, akan sulit dan butuh proses yang lebih panjang," kata dia ketika ditemui di Milk & Classic secara terpisah.

Siswa di English Cafe Bantul pun beragam mulai dari anak-anak hingga orang tua. Model pengajarannya pun diseusaikan dengan usia dan kebutuhan setiap orang. Setiap kelompok reguler pun jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga pengajar bisa memahami setiap member dan paham apa yang dibutuhkan.

"Kadang ada yang pemalu, tetapi sebenarnya paling pandai. Kami harus bisa memahami itu dan membuatnya percaya diri," kata dia.