PT KAI Berencana Bangun Jalur Kereta Khusus ke Bandara Kulonprogo

Ilustrasi kereta api. - JIBI/Bisnis Indonesia/Himawan L Nugraha
15 Desember 2019 17:07 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-PT Kereta Api Indonesia mewacanakan pembuatan rel khusus Kereta Api (KA) Bandara dari Jogja menuju Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo.

Pembuatan trase khusus itu sebagai antisipasi peningkatan jumlah penumpang di YIA seiiring pengoperasian secara penuh bandara di Temon, Kulonprogo pada 29 Maret 2020.

Keberadaan trase khusus KA Bandara dinilai perlu agar pengaturan perjalanan kereta lebih leluasa.

EVP PT KAI Daop 6 Eko Purwanto mengungkapkan persoalan yang dihadapi KA Bandara yakni masih menggunakan satu jalur dengan KA jarak jauh dan KA lokal. Belum ada trase khusus KA Bandara. "Trase khusus hanya sepanjang 4,3 km nantinya dari Kedundang ke YIA. Jogja ke Kedundang masih berbagi dengan reguler yang existing. Perjalanan KA yang melalui jalur Jogja ke Kutoarjo saat ini sebanyak 122 KA termasuk jarak jauh dan komuter," kata Eko Purwanto dalam FGD Key Success Factor untuk Optimalisasi YIA adalah Aksesibilitas yang Baik di Swiss-Belboutique, Jogja, Jumat (13/12).

Jika perjalanan KA masih memakai trase yang ada sekarang ada batas maksimal dan akan susah untuk diuta-atik. Ketika ada trase tersendiri untuk KA Bandara akan lebih leluasa mengatur jadwal. Untuk menyambut potensi 600.000 penumpang pesawat dinilai perlu ada trase khusus.

"Trase ada kapasitas maksimalnya. Apalagi bandara akan dioperasikan penuh dan penerbangan makin banyak. Kalau ada trase khusus pengoperasiannya khusus untuk KA Bandara akan lebih mudah," kata dia.

Ia mengakui untuk saat ini PT KAI masih bisa melayani keperluan penumpang ke bandara. Namun, suatu saat ketika jumlah penumpang pesawat semakin tinggi perlu dipikirkan adanya trase khusus karena akan terjadi kejenuhan kapasitas lintas yang bisa melintas di jalur yang sudah ada. Kalau sekarang hampir maksimal dari kapasitas. Sekarang sudah 3/4 kapasitas trase existing yang ada. "Untuk KAI Daop 6 tahun depan juga ada pembangunan listrik aliran atas. Untuk Jogja-Solo akhir 2020 akan pakai KRL. Pada 2021 akan ke Kutoarjo. KA makin padat pengembangannya," ujar dia.

Saat ini sudah ada 14 perjalanan KA Bandara sejak dibuka pertama kali pada Mei 2019. Ia menjelaskan PT KAI Daop 6 menangani dua KA Bandara yakni yang mengarah ke YIA dan Bandara Adisoemarmo, Surakarta. Sampai akhir 2020 KAI akan menyiapkan lagi empat rangkaan sehingga total ada sembilan KA Bandara.

"Diharapkan pelayanan di-bundling satu kesatuan dan memudahkan penumpang karena posisi penumpang naik KA terus bertambah," kata dia.

Selain konsentrasi pada pelayanan untuk penumpang KA Bandara, PT KAI Daop 6 juga memiliki impian untuk membuat setiap stasiun semakin bagus dan nyaman. Cita-cita itu untuk tahap sekarang dituangkan dalam maket yang dipajang di hall Stasiun Lempuyangan.

"Itu angan-angan awal. Coba kami buat. Kami pengin stasiun pengembangannya seperti itu karena penumpang semakin banyak. Cita-citanya seperti maket yang kami pajang di hall stasiun," kata dia.

Ia mengungkapkan cita-cita di maket tersebut akan didetailkan lagi dan ketika akan direalisasikan baru akan dikomunikasikan dengan para pemangku kepentingan. Tidak menutup kemungkinan akan menggandeng investor ke depannya.

"Ini baru angan-angan dan belum mendekati investor. Kalau mau direalisasikan baru sounding ke beberapa stakeholder karena stakeholder-nya ada banyak. Pembangunan Lempuyangan sekalian untuk penataan angkutan barang. Baru cita-cita di gambar. Itu masih agak global. Setelah ada detailnya baru akan dikomunikasikan," ujar dia.

 

//Biaya Besar

Kasubdit Penataan dan Pengembangan Jaringan KA, Ditjen Perkeretaapian, Kemenhub Ikhsandi Wanto mengungkapkan saat ini yang dilakukan Ditjen KA adalah membangun jalur simpang dari Kedundang ke YIA. “Untuk Jogja ke Kedundang masih memakai jalur existing dan untuk sementara masih berhenti di Wojo," kata dia.

Namun, untuk jangka panjang memang diperlukan trase khusus, tetapi nilai investasi kereta api sangat besar. Ia menyebutkan untuk membangun jalur sepanjang 5,4 km elevated yang menghubungkan Kedundang dan YIA biayanya kurang lebih Rp1 triliun. "Untuk jarak 42 km dari Jogja ke Wojo nilai investasinya berapa. Kemampuan finansial negara kan terbatas, ABPN terbatas. Untuk jangka waktu dekat kita fokus ke jalur Kedundang-YIA," jelas dia.

 

//Persoalan Akses

Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi mengungkapkan persoalan aksesibilitas adalah hal utama untuk mendukung operasional YIA. Permasalahan terkait dengan akses harus sudah terselesaikan sebelum YIA dioperasikan penuh. "Akses ke bandara ada KA dengan berhenti di dekat bandara. Menhub meminta AP I untuk membantu dalam soal aksesibilitas itu. Saat ini KA berhenti di Wojo. Yang penting itu kami siapkan kepastian waktu tempuh dan tunggu yang enggak terlalu lama. Menhub ingin tiap 30 menit ada KA berhenti di situ dan ketika penumpang sampai Wojo, diharapkan langsung dibantu oleh DAMRI untuk diantarkan ke YIA," ujar dia.

Ia menjelaskan pembangunan YIA hampir tuntas. Hingga 8 Desember 2019, progres pembangunan bandara yang berada di Kulonprogo ini telah mencapai 90%. Saat ini fokus pekerjaan meliputi penyelesaian pekerjaan interior terminal penumpang dan jalan layang menuju area keberangkatan lantai tiga.

Saat ini, YIA telah melayani 13 rute untuk penerbangan domestik, yaitu Denpasar, Cengkareng, Halim Perdanakusumah, Banjarmasin, Palembang, Palangkaraya, Samarinda, Makassar, Medan, Tarakan, Balikpapan, Batam, dan Pontianak. Rute-rute tersebut dilayani oleh maskapai Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, dan Batik Air.

"Pemindahan seluruh rute domestik dan internasional dari Bandara Adisutjipto ke YIA ditargetkan dilaksanakan pada akhir Maret 2020. Proses tersebut akan melibatkan banyak pemangku kepentingan, sehingga serentak atau tidaknya proses pemindahan penerbangan juga bergantung pada kesiapan masing-masing maskapai penerbangan," ujar Faik.

YIA merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diamatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Angkasa Pura I. YIA mendesak untuk dibangun mengingat Bandara Adisutjipto yang ada saat ini sudah dalam kondisi lack of capacity.