Pemkab Sleman Kesulitan Tangkarkan Punglor

Ilustrasi burung punglor, - Harian Jogja
17 Desember 2019 21:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sulitnya penangkaran burung punglor (Zoothera citrina) menjadi alasan Pemkab Sleman dalam mengantisipasi ancaman burung yang jadi ikon Bumi Sembada itu dari kepunahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya mengakui Pemkab Sleman selama ini memang belum serius dalam mengupayakan penangkaran dan pengembangan burung yang biasa disebut dengan burung anis merah tersebut.

Terlebih burung punglor yang tergolong sebagai satwa endemik membuat burung tersebut menjadi lebih sulit ditangkarkan. “Itulah sebabnya, kami akan sangat senang jika ada masyarakat yang bersedia menangkarkan [burung punglor],” kata dia, Selasa (17/12/2019).

Dia mengaku upaya pembudidayaan punglor sebenarnya pernah dijajal oleh Pemkab Sleman dengan memanfaatkan lahan perkebunan salak. Akan tetapi lantaran banyak pemilik kebun yang mengalihkan jenis tanaman dari salak ke tanaman jenis lain membuat pembudidayaan itu pun tak bisa maksimal.

Berdasarkan hasil pantauan DLH Sleman, jumlah burung punglor yang terbang di alam bebas memang terus menyusut. Salah satu penyebabnya adalah kian banyak masyarakat yang menangkap dan memeliharanya.

Apalagi burung punglor tidak masuk dalam daftar satwa yang dilindungi, sehingga memang tidak ada sanksi bagi masyarakat yang memelihara burung tersebut.

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta Andie Chandra Herwanto mengatakan upaya yang ia lakukan untuk menjaga kelestarian burung punglor selama ini baru sebatas mengorganisasi ulang para penghobi burung kicau, termasuk salah satunya burung punglor.

Upaya itu, lanjut Andie, diharapkan mampu secara signifikan mengurangi perburuan punglor di alam. "Ada sekitar tiga sampai empat penangkar punglor yang masih aktif termasuk di wilayah Kecamatan Turi," kata dia, Selasa (17/12).

Keberhasilan penangkaran punglor, lanjut Andie, juga akan menguntungkan masyarakat secara ekonomi karena nilai jualnya yang cukup tinggi. Per ekor anakan punglor, harganya bisa mencapai Rp800 ribu hingga Rp1juta. "Habitat punglor disinyalir ada di daerah Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman," kata dia.

Sayangnya hingga kini pihaknya belum memiliki data populasi punglor. Namun dia menilai sejauh ini populasi burung punglor yang terus menyusut belum masuk dalam kategori terancam punah. “Tetapi itu tidak bisa dianggap remeh. Ibaratnya seperti menunggu bom waktu. Jangan sampai nasibnya seperti gelatik Jawa yang hanya menyisakan sedikit populasi, dan sudah masuk list dilindungi," ucap dia.