OJK Catat 42 Multifinance Alami Kredit Macet di Atas 5 Persen
OJK mencatat 42 perusahaan multifinance memiliki NPF bruto di atas 5% pada Juli 2026, naik dari 38 perusahaan pada Juni.
Anggota Komunitas Gunungkidul Reptil Independen Dino Ahzar Setiawan saat melakukan tes untuk mengetahui jenis kelamin ular kobra yang ditangkap di wilayah Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari. Kamis (5/12/2019)-Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA-Peneliti LIPI memaparkan habitat ular kobra yang belakangan muncul di permukiman warga salah satunya di Gunungkidul, DIY.
Ular kobra Jawa (Naja sputatrix) atau dikenal juga sebagai ular sendok menghuni tipe habitat seperti perbatasan hutan yang terbuka, savana, persawahan hingga pekarangan.
Ular jenis berbisa ini, menurut peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy di Jakarta, Selasa (17/12/2019), menyukai suhu ruangan yang hangat dan lembap untuk tempat menetaskan telur.
Telur kobra diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembap. Telur-telur tersebut akan menetas dalam rentang waktu tiga sampai empat bulan.
Hampir semua jenis ular, termasuk induk ular kobra pada periode tertentu akan meninggalkan telur-telurnya dan membiarkan telur tersebut menetas sendiri.
“Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” tambah Amir.
Ular ini berukuran rata-rata 1,3 meter dan bisa mencapai ukuran panjang 1,8 meter. Sekali bertelur induk betina ular kobra jawa dapat menghasilkan 10 sampai 20 butir telur.
“Begitu menetas, anakan kobra akan menyebar ke mana-mana,” katanya.
Terdapat dua jenis ular kobra di Indonesia, yakni kobra Sumatra atau Naja sumatrana yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan dan kobra Jawa atau Naja sputarix yang terdistribusi di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Pulau Rinca, Sumbawa dan Flores. Ular berbisa ini berbahaya karena memiliki kemampuan meyemprotkan bisa (venom).
Karenanya meski belum ada korban jiwa, Amir mengemukakan masyarakat perlu mewaspadai fenomena munculnya anak-anak ular kobra di beberapa permukiman seperti di Bogor, Bekasi, Jember, Jakarta Timur, Klaten dan Gunungkidul (DIY).
Dalam buku petunjuk penanganan gigitan ular yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) insiden gigitan ular di Asia Tenggara musiman, tertinggi terjadi selama masa peningkatan aktivitas pertanian dan musim hujan. Sebagian besar gigitan ular dialami petani yang bekerja bertelanjang kaki, sehingga bagian kaki dan pergelangan kaki yang banyak terkena.
Epidemi gigitan ular mengikuti siklus banjir, badai dan invasi habitat ular untuk pembangunan jalan, irigasi dan penebangan hutan. Aktivitas-aktivitas menyebabkan perubahan jangka panjang pada iklim dan ekologi dan mendorong mereka masuk permukiman manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
OJK mencatat 42 perusahaan multifinance memiliki NPF bruto di atas 5% pada Juli 2026, naik dari 38 perusahaan pada Juni.
BPHTB Sleman baru Rp182,92 miliar atau 45,73% dari target Rp400 miliar. Komisi B menggandeng BPN mengejar penerimaan.
Toyota Hiace menabrak truk di Tol Pemalang KM 306. Dua penumpang mengalami kaki terjepit dan dievakuasi tim SAR.
Kebakaran Gunung Lawu meluas ke hutan lindung Ngawi. Tiga titik api masih menyala dengan luas area terbakar sekitar 13 hektare.
Basarnas Banda Aceh membagi empat tim untuk mencari Ho Wee Han, wisatawan Malaysia yang hilang saat menyelam di perairan Sabang.
Kelok 23 masih uji coba hingga 20 September 2026. Evaluasi 21 September menentukan kelayakan jalan sebelum dibuka untuk umum.