Armada Bus Sekolah Baru Satu

Awak bus memeriksa kelengkapan armada baru bus Trans Jogja yang secara resmi diluncurkan di Kantor PT Jogja Tugu Trans (JTT) di Jalan Jogja-Wonosari KM 4,5, Banguntapan, Bantul, Rabu (30/08/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
22 Desember 2019 07:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sleman telah mengusulkan tujuh trayek untuk melayani angkutan siswa sekolah di wilayah Sleman barat.

Kepala Bidang Transportasi Dishub Sleman Marjana mengatakan jika trayek itu dipilih karena memiliki akses titik transfer dengan angkutan antar kota antar provinsi (AKAP), antar kota dalam provinsi (AKDP), angkudes atau Trans Jogja.

Dengan trayek yang saling terintegrasi diharapkan akan mampu menarik minat siswa untuk menggunakan angkutan umum sekolah.

"Kalau kajiannya sebenarnya ada sebanyak tujuh trayek. Tapi karena busnya cuma satu, belum ditentukan rute mana yang dipakai," ujar Marjana, Sabtu (20/12/2019).

Namun, dengan adanya pemberian bantuan 28 bus dari Kemenhub untuk DIY pada tahun depan, persoalan itu akan mampu teratasi. Sesuai informasi dari provinsi, bantuan bus itu akan diberikan pada April 2020 mendatang.

Berdasarkan kajian Dishub Kabupaten Sleman pada 2018, butuh setidaknya 27 armada bus sekolah untuk wilayah Sleman bagian barat. Antara lain meliputi Kecamatan Moyudan, Seyegan, Godean, Minggir, dan Gamping.

"Namun, ternyata hanya satu unit yang disetujui dengan jenis kendaraan berupa kendaraan Elf berdaya tampung 19 orang termasuk sopir setelah diajukan ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub)," ungkap Kepala Bidang Transportasi Dishub Sleman Marjana.

Terkait dengan dana, kemungkinan akan dianggarkan tahun 2021 atau pada alokasi anggaran belanja tambahan (ABT) tahun 2020. Teknis pelaksanaannya juga belum ditentukan yang berkaitan dengan kriteria siswa yang dapat menggunakan layanan bis sekolah tersebut.

"Lantaran kendaraan baru diberikan akhir tahun ini, Pemkab Sleman belum mengalokasikan anggaran operasionalnya," ujarnya.

Dishub, lanjut Marjana, juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman khususnya soal biaya. "Harapannya pelajar yang memanfaatkan fasilitas angkutan itu bisa digratiskan sepenuhnya," imbuhnya.

Selain dari wilayah barat, lanjut Marjana, permintaan juga banyak berasal dari Sleman Utara untuk bisa dilayani fasilitas bus sekolah.

"Tapi tidak serta-merta semua langsung dipenuhi, dipilihnya lokasi Sleman barat untuk dijadikan bahan kajian karena banyak permintaan dari sekolah-sekolah di wilayah tersebut," tutupnya.

Terpisah, Kepala Disdik Sleman Sri Wantini menyambut baik pengadaan angkutan sekolah itu. Namun, mengingat jumlahnya hanya satu armada, perlu diterapkan skala prioritas wilayah yang mendapatkan fasilitas itu.

Kendati demikian, dalam pelaksanaannya diharapkan juga musti disosialisasikan dengan baik. Terkait dengan rute, ia juga menilai perlu juga dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah.

"Sehingga, efektivitas dan efisiensi tetap bisa terpenuhi. Dengan begitu akan mengurangi kemacetan, dan membantu transportasi anak sekolah sekaligus memberikan jaminan keamanan siswa," tutupnya.

Sebelumnya, Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Sleman Hempri Suyatna menyambut baik fasilitas transportasi publik gratis ini. Hal tersebut dinilainya mampu mendukung aksesibilitas masyarakat khususnya di daerah pedesaan.

"Kalau memang gratis ya saya kira bagus untuk membantu aksesibilitas masyarakat di pedesaan yang susah dijangkau masyarakat," ujar Hempri.

Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah memang di Jogja inj tidak ada akses angkutan transportasi umum. "Kalau sudah ada jangan sampai nantinya mematikan transportasi yang sudah ada," ungkapnya.

Alih-alih menambah alat transportasi umum, Hempri menyarankan kenapa tidak memperbaiki transportasi yang sudah ada dan sudah berjalan sedemikian rupa.

"Ini yg harus dipikirkan, terutama yg transportasi umum, jangan sampai meminggirkan yang sudah ada," terangnya.

Upaya pemetaan antara ketersediaan tranportasi umum yang sudah eksisting sekarang dengan tingkat kebutuhan masyarakat juga dinilainya perlu dilakukan.

"Perlu dipetakan betul-betul sejauh mana ketersediaan eksisting transportasi dan tingkat kebutuhan masyarakat, misalnya terlebih dahulu diadakan semacam feasibilty study," ujarnya.

Selama ini transportasi umum bus yang ada di Jogja masih diampu oleh Transjogja. Hal itu juga menimbulkan sebuah problem baru jika harus membenturkan sebanyak 28 kendaraan bus gratis dengan unit Transjogja yang sudah ada sekarang.

"Ke depan saya kira perlu dipikirkan status bus itu seperti apa, apa menggantikan TransJogja atau gimana," tutupnya.