2 Warga Gunungkidul Diduga Terjangkit Antraks, Puskesmas Diintensifkan 24 Jam

Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019). - Istimewa
03 Januari 2020 18:57 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Virus antraks yang diduga menjangkiti dua warga Gunungkidul mendorong pemerintah siaga.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan pihaknya mengintensifkan pemantauan oleh petugas puskesmas kepada warga sekitar selama 24 jam dalam kurun waktu 60 hari ke depan.

tujuannya agar warga sekitar bisa terpantau secara cepat jika terjadi penularan virus antras serta untuk melakukan pengecekan secara berkala.

Namun, Dewi mengingatkan kepada masyarakat Gunungkidul tidak perlu resah atas kejadian tersebut. Sebab, pengobatan hanya perlu dilakukan penanganan dengan baik dan pemberian antibiotik saja.

Ia mengimbau masyarakat jika merasakan keluhan untuk segera melaporkan kepada petugas kesehatan di wilayahnya masing-masing.

"Masyarakat tak perlu resah, kalau ada keluhan silakan periksakan ke puskesmas, agar segera teratasi. Obatnya gampang hanya antibiotik saja," kata dia, Jumat (3/1/2020).

Sebelumnya dua warga Gunungkidul dilarikan ke rumah sakit, diduga terjangkit virus antraks.

Keduanya merupakan warga Padukuhan Ngrejek Kulon dan Ngrejek Wetan Desa Gombang, Kecamatan Ponjong. Mereka dilarikan ke RSUD Wonosari pada Selasa (31/12/2019) pagi. Dugaan antraks menguat lantaran dalam kurun waktu tiga minggu terakhir, beberapa hewan di desa tersebut dikabarkan mati mendadak.

Otoritas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul membenarkan ada warga yang dilarikan ke RS lantaran diduga terjangkit antraks, Namun demikian saat ini pemerintah tengah menunggu hasil uji laboratorium sampel darah dua warga tersebut dari Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Bogor, Jawa Barat.

Dewi Irawaty mengungkapkan sampel darah dua warga Desa Gombang tersebut sudah diambil dan dikirim untuk uji lab. "Kami belum bisa menyatakan positif atau negatif, karena untuk menentukan positif kami harus melalui hasil pemeriksaan darah yang sudah diambil dan dikirim ke BB Litvet Bogor," kata Dewi saat ditemui Harianjogja.com.

Ia memastikan sampel darah tersebut sudah dikirim pada Kamis (2/1/2020) kemarin. Saat ini pihaknya tinggal menunggu hasilnya yang biasanya memakan waktu kurang lebih 10 hari. Sedangkan dua korban tersebut diketahui tengah dirawat secara intensif oleh RSUD Wonosari.

Pihaknya mencurigai bahwa kasus tersebut merupakan penyebaran virus antraks.

Dewi menjelaskan setelah ada temuan warga yang diduga terjangkit virus yang ditularkan dari hewan tersebut, pihaknya langsung mengevakuasi korban untuk diberikan pengobatan dan perawatan secara intensif di rumah sakit. Sedangkan warga di desa tersebut, pihaknya menerjunkan tim untuk dilakukan sosialisasi.

"Setelah menemukan itu kami langsung lakukan penyuluhan kepada masyarakat di lingkungan lokasi kejadian, kami edukasi seperti kalau ada sapi mati atau sakit tidak boleh dikonsumsi, kalau ada keluhan segera lapor, dan tentunya kami edukasi soal lalu lintas hewan dan pengambilan pakan," ujarnya.

Terpenting, Dewi menegaskan agar perilaku masyarakat bisa berubah. Contohnya, jika ada hewan sakit atau jangan dikonsumsi, jika ada hewan sakit jangan disembelih, sebab darahnya akan mudah terjangkit. Selain itu, lalu lintas pembelian hewan ternak oleh petani perlu diperhatikan dengan baik mulai dari mengecek kesehatan, lokasi pembelian dan pakan yang dikonsumsi hewan tersebut.