Antisipasi Penyebaran Antraks, Warga Grogol Tak Boleh Menjual Ternak Sembarangan

Sapi yang ada di Pasar Hewan Imogiri, Bantul, akhir pekan lalu. - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
28 Juni 2019 21:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pasca ditemukannya sapi mati mendadak di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul memperketat pengawasan ternak, salah satunya melarang penjualan atau pembelian ternak di daerah terpapar. Untuk pengawasan pemkab tak hanya melibatkan petugas kesehatan hewan, tetapi juga mengikutsertakan ketua rukun tetangga (RT) dan ketua rukun warga (RW).

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan,jajarannya masih menunggu hasil laboratorium Balai Besar Veteriner Wates, Kulonprogo, terkait dengan pengujian sampel sapi mati di Grogol 4 yang ditemukan Kamis (27/6/2019). Meski belum keluar, DPP memperketat pengawasan ternak di kawasan terpapar antraks. “Untuk sementara warga tidak boleh menjual atau membeli ternak baru. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran antraks lebih luas lagi,” kata Bambang kepada wartawan, Jumat (28/6/2019).

Menurut dia, untuk pengawasan tidak hanya melibatkan petugas kesehatan hewan, tetapi di dalam pelaksanaannya juga melibatkan camat, kepala desa hingga ketua RT dan RW. “Sudah kami koordinasikan dan mudah-mudahan dengan pengawasan yang diperketat ini lalu lintas ternak bisa dihentikan sementara waktu agar antraks tidak menular ke daerah lain,” katanya.

Bambang menjelaskan kebijakan melokalisasi ternak dilakukan untuk memastikan hewan bebas dari antraks. Pasalnya, pada saat bersamaan juga dilakukan vaksin terhadap ternak-ternak milik warga. “Pemberian vaksin merupakan upaya pencegahan agar ternak benar-benar sehat. Jadi saat kurban, ternak dari Grogol 4 tidak bermasalah dan laku dijual di pasaran,” katanya.

Dia menjelaskan pemberian vaksin anti antraks ke ternak dilakukan sejak Selasa (25/6). Diharapkan penyuntikan selesai dalam dua hari. “Masih berproses karena ada ribuan ternak yang divaksin,” katanya.

Sebelumnya, DPP Gunungkidul mendapatkan laporan terkait dengan sapi milik Jumiyo yang mati mendadak. Laporan ini ditindaklanjut dengan pemeriksaan dan penguburan terhadap bangkai sapi tersebut. “Langsung dikubur untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Selain itu, kami juga mengambil sampel untuk diteliti apakah kematian karena antraks atau bukan,” kata Bambang Wisnu.

Kepala Seksi Kesehatan Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widiastuti, mengatakan langkah paling efektif mencegah penyebaran penyakit pada ternak yang mati mendadak dengan cara mengubur. Menurut dia, cara ini paling efektif karena bakteri di dalam tubuh hewan tidak akan keluar dan akan mati seiring membusuknya bangkai hewan yang dikubur. “Kalau disembelih malah akan berbahaya dan potensi penyebaran penyakit akan lebih luas. Sebagai contoh untuk kasus antraks bisa menyebar bersamaan dengan darah hewan yang disembelih,” katanya.