Pemkab Gunungkidul Bangun 90 Kios Rp783 Juta untuk Perluasan Taman Kuliner Wonosari
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Kepala Dusun Panggang I, Ika Rachmani, menunjukkan tanah ambles yang berada di area permukiman warga di Dusun Panggang I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kamis (9/1/2019)./Istimewa-Dokumen BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Bencana tanah ambles terus terjadi di Gunungkidul. Setelah sebelumnya muncul di Dusun Brongkol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, fenomena yang sama juga terjadi di Dusun Panggang I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang.
Kepala Dusun Panggang I, Ika Rachmini, mengatakan tanah ambles di wilayahnya terjadi sejak beberapa bulan lalu. Awalnya warga menganggap tanah ambles merupakan fenomena biasa, namun keanehan muncul karena saat lubang ditimbun muncul lubang yang baru. “Mudah-mudahan ada solusi karena hingga sekarang warga masih khawatir dengan tanah ambles ini,” kata Ika kepada wartawan, Kamis (9/1/2019).
Menurut dia, kekhawatiran warga sangat beralasan karena di sekitar lokasi tanah ambles terdapat 15 kepala keluarga (KK). Di sisi bawah juga terdapat lima KK yang juga berpotensi terdampak tanah ambles. “Tanah yang ambles terus tergerus dan bisa menjadi ancaman warga sekitar. Semoga hujan yang turun tidak memperparah kondisi tanah di sekitar lokasi,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan jajarannya sudah menerima laporan peristiwa tanah ambles di Dusun Panggang I, Desa Giriharjo, Panggang. Menurut dia, hingga saat ini belum ada korban terkait dengan dengan fenomena alam ini. “Ada beberapa titik amblesan baru yang terjadi hari ini [Kamis]. Warga di sekitar lokasi harus tetap waspada dan berhati-hati,” katanya.
Disinggung mengenai penanganan, Edy mengakui ada beberapa solusi. Salah satu opsi yang bisa dilakukan yakni merelokasi warga di lokasi terdampak. Meski demikian, prosesnya harus ada permohonan dari pemerintah desa dan disetujui oleh Bupati. “Yang tak kalah penting lagi, warga di sekitar lokasi juga mau dipindah. Untuk penanganan juga butuh koordinasi lanjutan lintas sektoral,” katanya.
Fenomena tanah ambles di Gunungkidul merupakan hal yang sering terjadi khususnya saat musim hujan. Menurut Edy, peristiwa ini tidak lepas dari kondisi wilayah yang didominasi batuan karst. “Ada lubang-lubang yang menuju ke bawah sehingga saat hujan bisa memicu munculnya tanah ambles. Masalah ini juga sudah kami sampaikan dalam rapat koordinasi penanggulangan bencana,” katanya.
Menurut Edy, BPBD juga terus mendata kemunculan sinkhole. Menurut dia, kemunculan terakhir terjadi di Dusun Kandri, Desa Pucung, Girisubo. “Di Desa Pucung muncul lubang berdiameter satu meter dengan kedalaman dua meter. Apabila warga ingin menutup, kami sarankan jangan menggunakan sampah karena dapat mencemari sungai bawah tanah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Real Madrid membalas kritik Javier Tebas dan menyinggung prinsip netralitas. Simak awal perselisihan Tebas dan Los Blancos serta sejarah Madrid.
KAI Daop 6 Jogja membangun jalan baru 394 meter di Stasiun Lempuyangan. Sebanyak 13 rumah perusahaan ditertibkan untuk penataan kawasan.
Jadwal Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 hari ini mencakup 21 cabor, termasuk esports, atletik, bulu tangkis, wushu, dan angkat besi.
Wisatawan dari kawasan Malioboro yang hendak menuju Pantai Parangtritis pada Rabu (23/9/2026) dapat memanfaatkan Bus Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN
Jadwal UEFA Nations League 2026/2027 mulai 24 September. Simak Belanda vs Jerman, Inggris vs Spanyol, dan jadwal lengkapnya.