Suspect Antraks, 12 Warga Ponjong dan Semanu Dirawat di RSUD Wonosari

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berupaya mengubur bangkai sapi milik Sunaryo yang mati mendadak di Dusun Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Selasa (27/8/2019)./Istimewa - Dokumen DPP Gunungkidul
10 Januari 2020 16:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penyakit menular yang diduga mengarah atau suspect antraks mengancam warga di Kecamatan Ponjong dan Semanu. RSUD Wonosari mencatat sebanyak 12 warga yang terdiri dari 11 warga Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, dan satu warga Kecamatan Semanu diduga terjangkit antraks dan harus dirawat.

Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Wonosari, Triyani Heni Astuti, mengungkapkan jajarannya belum bisa berkomentar terkait jenis penyakit yang diderita oleh para pasien tersebut. Sebab, uji laboratorium masih dilakukan Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Bogor, Jawa Barat.

Heni menyebut para pasien masuk kategori suspect antraks, mengingat para pasien tersebut tinggal di wilayah yang diduga terpapar virus antraks dari hewan ternak. Tak hanya itu, informasi yang didapat, sejumlah penderita mengaku mengonsumsi daging hewan yang diduga mati secara mendadak. "Kami masih menunggu hasil uji laboratorium para pasien dari BB Litvet Bogor," kata Heni kepada wartawan, Jumat (10/1/2010).

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengungkapkan sampel darah pasien sudah diambil dan dikirim ke BB Litvet Bogor untuk diuji. Saat ini Dinkes masih menunggu hasil uji laboratorium tersebut. "Uji laboratorium di Bogor sangat teliti dan butuh waktu lama, kami belum bisa memastikan kapan hasilnya keluar," ujarnya.

Namun, setelah ada temuan itu jajarannya langsung mengevakuasi korban untuk diberikan pengobatan dan perawatan secara intensif. Untuk warga di kedua desa tersebut, Dinkes menerjunkan tim untuk sosialisasi. Bahkan, ratusan warga di Dusun Ngrejek Kulon dan Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, telah diberi antibiotik. "Warga yang diberi antibiotik merupakan warga yang kontak langsung dengan sapi mati seperti memotong, makan daging hingga bersih-bersih," kata dia.

Dinkes juga terus memantau perkembangan di lokasi secara intens hingga 120 hari ke depan, sehingga bisa melakukan langkah-langkah antisipasi dengan cepat. Terpenting, masyarakat tetap tenang dan diimbau tidak khawatir dengan penyebaran penyakit ini. "Antibiotik sudah diberikan dan belum ada kasus penelitian bahwa penyebaran antraks bisa dari manusia ke manusia," kata Dewi.