Pabrik Semen di Cilacap Bisa Tampung Sampah dari TPST Piyungan yang Overload

Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto, memberikan presentasi saat diskusi bedah buku di acara bertema Grow Fast Grow Fair Membangun Infrastruktur DIY dan Jawa Tengah yang digelar di Fakultas Teknik Sipil, UGM, Sleman, Sabtu (18/1/2020).-Harian Jogja - Gigih M. Hanafi
19 Januari 2020 07:17 WIB Bhekti Suryani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul berpotensi digunakan sebagai bahan bakar pabrik semen di Cilacap, Jawa Tengah. Pabrik semen milik PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Tbk bisa menampung sampah tersebut.

Pengolahan sampah menjadi bahan bakar dinilai sebagai salah satu solusi mengatasi kapasitas TPST yang kini sudah tidak memadai untuk menampung sampah dari wilayah Jogja, Sleman dan Bantul.

Hal itu disampaikan Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto, di Kampus UGM, Sabtu (18/1/2020). PT Solusi Bangun Indonesia Tbk kata dia bisa menampung sampah dari TPST Piyungan untuk dijadikan bahan bakar pengganti batu bara yang digunakan dalam produksi semen di pabrik Cilacap, Jawa tengah.

Hanya saja syaratnya, harus ada pabrik pengolahan sampah terlebih dahulu yang dibangun di DIY. Pabrik pengolahan sampah itu berfungsi mengeringkan dan mencacah sampah sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar. Operator atau ahli pengolahan sampah kata dia bisa melibatkan sumber daya manusia (SDM) dari perusahaan pelat merah tersebut.

Adapun investasi fasilitas pabrik pengolahan dan teknologi yang digunakan menjadi tanggung jawab Pemda DIY dan bisa melibatkan investor swasta. “Serpihan kecil [sampah TPST Piyungan yang telah dikeringkan] itu dibawa ke Cilacap bisa masuk ke pabrik kami. [Pengiriman sampah dari DIY ke Cilacap] bisa pakai kereta api. Potensinya ada, mari kita pikirkan sama-sama [implementasinya],” kata Agung Wiharto.

Kendala saat ini diakuinya yakni biaya investasi pembanguan tempat pengolahan sampah serta teknologi yang digunakan, lantaran butuh biaya tak sedikit. Ia mencontohkan untuk pembangunan tempat pengolahan sampah beserta teknologinya di Cilacap, Jawa Tengah memakan biaya Rp100 miliar untuk kapasitas sampah sebesar 120 ton sehari. Padahal di TPST Piyungan, menerima sampah 400-500 ton sehari. Saat ini bahkan TPST Piyungan sudah kelebihan kapasitas dan kerap menimbulkan persoalan seperti sampah yang meluber, antrean panjang truk pengangkut sampah dan sejumlah persoalan lainnya.

Pemerintah DIY menurutnya tengah melakukan prefeasibility study (FS) untuk melihat kemungkinan solusi di atas diterapkan. Hal itu diketahui dari hasil pertemuan perwakilan perusahaan yang dulu bernama PT Holcim Indonesia itu dengan otoritas Pemda DIY beberapa waktu lalu.

PT Solusi Bangun Indonesia yang merupakan bagian dari PT Semen Indonesia Group dikatakannya berpengalaman mengolah sampah di Cilacap menjadi bahan bakar pengganti batu bara hingga 50 ton sehari. “Di Cilacap itu pembangunan fasilitas pengolahannya dibantu pemerintah Denmark dan dihibahkan ke Pemda Cilacap. Sampah diolah lalu dikirim ke pabrik kami [pabrik produksi semen] di Cilacap juga,” katanya.