Nenek Miskin yang Ditendang di Pasar Sleman Hidup Sebatang Kara Tanpa Listrik

Kepala Dukuh Kranggan I Jogotirto Suharmadi saat menunjukkan rumah nenek Rubingah, Rabu (22/1/2020).-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
22 Januari 2020 21:17 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Nenek Rubingah yang ditendang seorang lelaki di sebuah pasar di Sleman diketahui hidup memprihatinkan.

Sosok Rubingah (60) jadi perbincangan usai videonya ditendang dan diseret kausnya di Pasar Potrojayan, Prambanan, Sleman, viral di media sosial. Saat wartawan mengunjungi rumah Rubingah, bagaimana kondisinya?

Rubingah tinggal di Dusun Kranggan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Rumahnya tampak sepi dan kurang terawat. Di halaman terdapat tumpukan genting dan kayu.

Pintu pagar terlihat dirantai dan digembok dari luar. Halaman rumahnya ditumbuhi semak-semak tanaman liar yang tinggi. Sedangkan di sisi lain rumah, ada berbagai barang bekas yang berserakan.

Salah seorang tetangga, Darmowiyono (83) bercerita, Rubingah tidak memiliki pekerjaan dan suka bepergian.

"Tidak memiliki pekerjaan, orangnya suka kelayapan. Memang tertutup dan hanya mau berbicara dengan RT dan Pak Dukuh," kata Darmowiyono saat ditemui di dekat rumah Rubingah, Rabu (22/1/2020) dikutip dari Detik.com-jaringan Harianjogja.com.

Darmowiyono mengungkapkan, rumah yang ditinggali Rubingah saat ini merupakan bantuan pascagempa 2006. "Sudah 53 tahun hidup di dusun ini, ini rumah bantuan gempa," terangnya.

Darmowiyono mengaku Rubingah sejak kemarin tidak pulang ke rumahnya. Dia pun tidak mengetahui keberadaan Rubingah saat ini.

"Sejak kemarin sudah tidak ada di rumah," katanya.

Diwawancarai terpisah, Kepala Dusun Kranggan 1, Suharmadi (44) mengatakan Rubingah tinggal sendirian di rumahnya. Rubingah sudah lama bercerai dengan suaminya.

"Ibu Rubingah di sini hidup sebatang kara, rumahnya tanpa listrik. Beberapa puluh tahun lalu anak sama suami pisahan. Anak ke Sumatra," ujar Suharmadi saat dihubungi detikcom.

Setelah bercerai, lanjut Suharmadi, kondisi Rubingah tampak berbeda dan susah diajak komunikasi. Ia juga terkadang pergi tanpa tujuan yang jelas.

"Ibunya kalau diajak ngobrol agak susah, kadang nyambung kadang nggak. Kayak orang depresi, ibu jarang pulang ke rumah, sebatang kara, keliling terus," terangnya.

Rubingah disebutnya tergolong keluarga miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rubingah kadang menjadi tukang pijat. Selain itu juga mendapat bantuan makanan dari tetangga.

"Itu golongan tidak mampu keluarga miskin. Kalau dapat bantuan seperti dari zakat," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Rubingah ditendang dan diseret lantaran dituduh mencuri di Pasar Potrojayan, Prambanan, Sleman. Peristiwa tersebut terekam kamera dan videonya kemudian viral di media sosial. Polisi telah turun tangan dengan memeriksa sejumlah saksi.

Viralnya video nenek Rubingah ditendang dan diseret itu memancing respons netizen. Bahkan ada yang sampai membawa bantuan sembako dan sejumlah uang.

Seperti yang dilakukan oleh Sanlido (23) dan Kiky (21), mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. "Lihat pertama di twitter. Lalu di-reply sama Kiky, dan banyak DM lalu kami bikin gerakan untuk membantu itu," jelas Sanlido saat ditemui di rumah Rubingah.

Menurutnya, peristiwa yang dialami Rubingah itu memilukan. Walaupun, ada dugaan pencurian yang dilakukan oleh Rubingah.

"Itu kejadian memilukan, tapi ada sisi kemanusiaan yang dibantu. Walaupun kejadian tercela, miris karena orang tua. Mestinya bisa diselesaikan dengan kekeluargaan," jelasnya.

Dia menyebut kejadian itu semestinya tidak perlu terjadi. "Mungkin di situ ada keamanan pasar, harusnya hadir, daripada main hakim sendiri. Itu yang disayangkan," ucapnya.

Sanlido membawa bantuan berupa sembako dan sejumlah uang. Itu dari hasil donasi.

"Saya tergerak karena ada momentum itu, karena dari video itu kok kasihan apa anaknya tidak ada ternyata dari tetangga tidak di sini. Ada 30-an orang yang berpartisipasi," katanya.

Sumber : Detik.com