Gegara Virus Corona, Harga Bawang Putih Kini Jadi Mahal

Ilustrasi pedagang bawang putih di Pasar Gentan Sinduharjo, Kecamatan, Ngaglik, Kabupaten Sleman - JIBI/HarianJogja/Fahmi Ahmad Burhan
03 Februari 2020 18:57 WIB Newswire Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Wabah virus corona di Tiongkok berdampak pada komoditas pangan dalam negeri.

Korona di China mengakibatkan sejumlah komoditas impor ke Indonesia tersendat. Dampaknya, salah satu komoditas impor bawang putih di pasar tradisional Kulonprogo, Yogyakarta naik hingga 100 persen.

Sejak tiga hari terakhir, harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional Wates, Bendungan dan Sentolo di kabupaten Kulonprogo merangkak naik.

Pasokan bawang putih impor dari China mulai menipis sejak kasus virus korona mulai merebak di negara Tirai Bambu tersebut.

Bawang jenis cincau yang sebelumnya dijual Rp30.000 kini dijual Rp55.000 per kilogram. Sementara jenis bawang kating yang sebelumnya dijual sekitar Rp30.000 saat ini dihargai antara Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram atau naik 100 persen.

Pedagang di Pasar Bendungan, Wates, Jumiati mengaku pembelinya turun hingga 50 persen karena harga bawang naik cukup tinggi.

"Kalau kami pedagang, dulu itu bawang putih lima kilogramnya cuma Rp150.000. Sekarang sudah jadi Rp215.000. Ya naik 100 persen," katanya, Senin (3/2/2020).

Sementara, pedagang lain Ngadilan mengaku stok bawang putih di pengepul mulai sedikit sehingga harga mulai naik. Dia memperkirakan harga bawang putih di pasar akan terus naik jika impor bawang belum stabil.

"Itu impor sepi, jadi terus naik," ujarnya.

Pembeli di Pasar Bendungan, Wates, Sari Budi mengatakan, tetap membeli bawang putih karena merupakan bumbu pokok. Dia juga menilai, kenaikan beberapa komoditas impor ini kemungkinan karena isu virus korona.

"Bisa juga inikan karena pembatas impor dari China jadi dampaknya ke harga di pasar," katanya.

Sumber : Antara