Sebelum Kunjungan Resmi ke Kraton, Presiden Singapura Ternyata Pernah Berwisata ke Jogja

Kunjungan Presiden Singapura H.E. Halimah Yacob-Harian Jogja - Sunartono
05 Februari 2020 22:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Presiden Singapura H.E. Halimah Yacob bersama suaminya Mohammed Abdullah Alhabshee mengunjungi Kraton Jogja, Rabu (5/2/2020) malam. Halimah diterima oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X bersama keluarga di Kompleks Inti Kraton.

Halimah tiba di Kraton sekitar pukul 19.00 WIB diterima oleh sejumlah putri HB X antara lain GKR Mangkubumi, GKR Hayu, GKR Condrokirono dan GKR Bendara. Kemudian berjalan masuk dan disambut Sri Sultan HB X dan permaisurinya GKR Hemas dan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X serta BRAy Paku Alam X di depan Regol Donopratopo. Sultan kemudian mengajak rombongan Presiden Singapura masuk ke Kompleks Inti Kraton. Halimah diterima Sultan di Gedhong Jene yang merupakan kompleks inti kraton. Pertemuan tertutup itu berlangsung sekitar 20 menit. Terlihat dari pintu kaca Sultan dan Halimah duduk berdekatan sebagai tamu kenegaraan.

Selepas pertemuan selesai, keluar dari Gedhong Jene kemudian berfoto bersama di teras di hadapan para wartawan. Rombongan kemudian menuju Bangsal Kencana. Di bangsal itu kemudian duduk dengan menghadap ke arah timur di bagian depan Bangsal untuk melihat sajian Beksan Lawung Ageng yang dibawakan oleh para abdi dalem Kraton Jogja.

Presiden Singapura beserta rombongan meninggal Kraton Jogja sekitar pukul 21.20 WIB, dengan diantar oleh sejumlah putri HB X hingga ke Regol Keben. Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Kraton Jogja GKR Bendara menjelaskan selama di kompleks inti kraton pihaknya memberikan penjelasan dan menunjukkan sejumlah manuskrip, wayang, keris peninggalan kraton. Hal itu untuk menunjukkan bahwa Jogja penuh dengan nilai heritage.

"Tadi kami juga menunjukkan beksan lawung ageng, ini diciptakan HB I di tahun 1755. Kami juga sampaikan arti dari tarian tersebut," katanya.

Halimah sangat terkesan dengan peninggalan budaya yang ada di Kraton Jogja terutama berkaitan dengan Raffles yang membawa banyak manuskrip Kraton Jogja.

"Punya histori yang lumayan kental dengan Jogja, karena mereka kaitkan dengan Rafless. Saya juga ceritakan kami punya 300 manuskrip, tetapi kebanyakan sejak HB III kebawa, saat HB II Raffles datang membawa banyak manuskrip, akhirnya tersebar di seluruh dunia," katanya.

GKR Bendara mengatakan, Pemerintah Singapura sebenarnya pernah mengajak Kraton Jogja untuk mengikuti pameran bersama tentang 100 tahun Raffles. Tetapi waktu itu Kraton tidak bisa mengikuti karena salah satu koleksi yang diinginkan panitia sedang diperbaiki. Namun pihaknya sudah sempat menyinggung hal itu dengan Menteri Kebudayaan Singapura dalam pertemuan tersebut agar ke depan bisa kerja sama antarmuseum.

"Mereka [Pemerintah Singapura] juga menyampaikan bahwa tahun lalu pernah menyelenggarakan pameran tentang 100 tahun Raffles, kami bilang bahwa sempat ditawari ikut pameran bersama tetapi waktu itu kami sedang merenovasi lukisan yang mereka inginkan untuk dipamerkan di sana [Singapura], sehingga waktu itu tidak bisa ikut pameran," katanya.

Sementara itu GKR Mangkubumi menambahkan, dari pertemuan itu juga terungkap, Presiden Singapura Halimah Yacob pernah menjadi wisatawan dan berkunjung ke Kraton Jogja sekitar empat tahun yang lalu. Saat kunjungan itu, kata dia, berdasarkan ceritanya, Halimah melihat sejumlah pertunjukan di Bangsal Srimanganti.

"Tadi menyampaikan, pernah jadi turis, beli tiket sendiri, melihat performance tarian di Bangsal Srimanganti," ucapnya.